Beranda Berita Memo Stop Mudik, Merawat Tradisi Melihat Situasi

Stop Mudik, Merawat Tradisi Melihat Situasi

Oleh: Lutfi Humaidi

Doktor Ilmu Penyuluhan Pembangunan IPB, ASN Balitbang Kementerian Pertanian dan Wakil Sekretaris GP. Ansor Cabang Kota Tanjungpinang.

Kata ‘mudik’ dan ‘pulang kampung’ mendadak ramai diperdebatkan netizen di media sosial. Hal ini, membuat saya terpantik untuk menulis topik yang sedang hangat diperbincangkan ini.

Saya tidak ingin ikut mendebatkan makna kata harfiah mudik dengan pulang kampung, sebagaimana memutar balik kata lockdown dengan karantina atau PSBB, istilah yang saat ini sering digunakan di masa corona (COVID-19).

Saya memilih memaknai istilah mudik dengan pulang kampung adalah sama-sama kegiatan perantau atau pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya.

Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi pada bulan Ramadhan dan menjelang hari raya Idul Fitri atau lebaran tiba.

Biasanya pemudik menggunakan alat transportasi, seperti pesawat terbang, kereta api, kapal laut, bus, dan kendaraan pribadi seperti mobil dan sepeda motor, bahkan truk dapat digunakan untuk mudik.

Kesadaran mudik menjadi penting setelah berbulan-bulan, misalnya, di tengah perkotaan dan pekerjaan yang telah menyita banyak waktu. Tanpa kita sadari, rutinitas semacam itu mengikis kesadaran bersaudara dan bertetangga kita di tanah rantau atau di kota khususnya.

Mudik juga menjadi momentum mengenal kembali lebih dekat dengan lingkungan kita. Tidak berhenti di situ, mudik lebaran juga dijadikan momentum berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua.

Di Indonesia, mudik lebaran menjadi tradisi yang sarat akan nilai-nilai, baik sosial maupun spiritual.

Sebagai agama yang memberi rahmat kepada semua, Islam sangat memerhatikan betapa pentingnya menjaga hubungan antar sesama agar tetap harmonis. Dalam Islam, menyambung tali silaturrahim merupakan ajaran penting.

Inilah potret nyata hablum minannas sebagai ejawantah ibadah sosial. Untuk itu, tradisi mudik sangat berkelitan antara sosial-budaya, dan keagamaan.

Kerinduan akan kultur hidup seperti itulah, yang akan terpenuhi saat mudik lebaran Idul Fitri, sebagai perwujudan untuk kembali ke fitrah.

Bagi masyarakat Indonesia, mudik ke kampung halaman belum bisa digantikan dengan kemajuan teknologi sekalipun.

Meski kemajuan teknologi menyediakan sebuah fitur seperti internet, telephone dan video conference yang mampu mendekatkan jarak antar individu, tapi dalam mudik terdapat beberapa aspek yang tidak bisa digantikan dengan kemajuan teknologi.

Selain itu, teknologi belum menjadi budaya mendasar masyarakat Indonesia. Terutama yang berasal di wilayah pedesaan.

Tradisi Mudik Pertimbangkan Situasi

Tradisi mudik untuk tahun 1441 H/2020 M akan berbeda karena terjadi di situasi pandemi COVID-19.

Pemerintah juga telah membuat larangan mudik, dikarenakan wabah Corona yang semakin menggawat di sejumlah daerah Indonesia.

Mudik tahun ini akan lebih banyak mudaratnya dibanding manfaatnya karena dilakukan di tengah wabah pandemi.

Ini harus dipahami khususnya masyarakat yang tinggal di Jabodetabek pada umumnya sudah masuk pada klaster epidemiologi yang zona merah.

Artinya siapa pun yang ada di sini itu berpotensi terpapar. Oleh sebab itu dengan adanya larangan mudik ini, ini tentu kita harapkan bisa meminimalisir penyebaran virus yang terjadi di kota-kota lain di Indonesia.

Hal itu dilakukan guna memutus mata rantai penularan virus yang mematikan ini.

Kita semua wajib sadar diri, kegiatan keagamaan saja dibatasi sedemikan rupa dengan tetap berpedoman hukum syariat.

Apalagi mudik atau pulang kampung yang nilainya lebih pada tradisi harus dihentikan atau tidak dilaksanakan sementara waktu karena pertimbangan situasi.

Dalam kondisi seperti sekarang ini, kita harus mengedepankan prinsip agama “La Dharara wa Laa Dhirara”, yaitu jangan melakukan sesuatu yang menimbulkan kemudharatan atau kerugian diri sendiri, keluarga, dan bagi orang banyak secara umum.

Karena itu, tidak ada masalah apabila tidak mudik. Di dalam ajaran Islam, menyelamatkan kehidupan jauh lebih penting dibandingkan dengan melaksanakan tradisi yang mengandung risiko keselamatan, misalnya tertular atau menularkan virus Corona.

Memaksakan diri mudik dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain, termasuk keluarga.

Kita tidak pernah tahu, di tengah perjalanan menuju kampung halaman, bisa saja tanpa kita ketahui kita pembawa virus terjadi kontak fisik dengan orang yang lain, atau kita terpapar COVID-19 dari orang lain.

Untuk itu mari bersama-sama mendisiplinkan diri, memutus mata rantai penyebaran COVID-19, dengan tidak mudik Lebaran tahun ini.

Jika kita memaksakan diri untuk tetap mudik tanpa melihat situasi dan kondisi maka mudik tidak membawa kebahagiaan bagi keluarga dan lingkungan malah sebaliknya derita dan musibah yang akan dirasa “Fiqh mu’amalah mengajarkan kepada kita: jalbul-mashalih wa daf’ul-mafasid.

Seluruh hal untuk meraih kemaslahatan dan menolak kemafsadatan (kerusakan) sesungguhnya adalah bagian dari perintah syari’at.

Adanya budaya silaturahim di saat mudik yang biasa dilakukan dengan berkunjung ke rumah sanak saudara dan tetangga, dapat kita dilakukan dengan format lain seperti secara daring, online melalui teknologi komunikasi. Video call atau video conference dari rumah tinggal masing-masing.

Peraturan Pemerintah Terkait Mudik Dan Kisah Umar Bin Khattab dalam Menghadapi Wabah

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 1441 Hijriyah dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

Dalam Pasal 6 (b) dijelaskan bahwa kendaraan yang akan keluar dan/atau masuk wilayah; a) pembatasan sosial berskala besar; b) zona merah penyebaran COVID-19; c) aglomerasi yang telah ditetapkan sebagai wilayah pembatasan sosial berskala besar pada tanggal 8-31 Mei 2020 diarahkan untuk kembali ke asal perjalanan dan dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Peraturan Pemerintah tersebut sesuai dengan kisah Khalifah Umar bin Khattab dan pasukannya saat menuju Syam.

Akan tetapi, misi yang hendak ditunaikannya itu tiba-tiba harus terjeda di wilayah Saragh, dekat perbatasan Hijaz.

Umar dan rombongan terhenti oleh seseorang bernama Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Komandan perang itu menginformasikan kepada khalifah bahwa kota yang akan ditujunya telah menjadi pusat wabah penyakit menular. Setelah mendengar laporan Abu Ubaidah, Umar terdiam sejenak.

Muncul keinginan di benaknya untuk menghentikan perjalanan dan kembali pulang. Akan tetapi, ia lebih memilih bermusyawarah. Lantas, dipanggillah para petinggi untuk dimintai pendapat.

Umar berkata, “Panggil para pendahulu kalangan Muhajirin!” Mereka pun berdiskusi seru. Satu perwakilan Muhajirin berpendapat, ” Apakah Anda akan keluar untuk urusan penting ini? Kami berpendapat, tidak selayaknya Anda pulang begitu saja. Akan tetapi, rupanya kalangan Muhajirin pun tidak satu suara.

Perwakilan lain mempertimbangkan, “Anda membawa rombongan besar, yang di sana juga terdapat para sahabat Rasulullah Muhammad Saw. Saya tidak sependapat jika Anda menghadapkan mereka pada wabah ini.”

Umar merasa butuh masukan dan pertimbangan lain, ia berkata, “Panggil orang-orang Anshar!” Setelah menghadap dan diajak berdiskusi, Khalifah Umar pun mendapatkan dua pendapat bertentangan, selayaknya silang debat kalangan Muhajirin. “Panggil para pemimpin Quraisy,” perintah Umar, lagi.

Setelah datang dan diberikan waktu memaparkan saran, satu pemimpin Quraisy bilang, “Kami berpendapat, sebaiknya Anda pulang saja kembali bersama rombongan.

Jangan menghadapkan mereka dengan wabah ini.” Akhirnya, dengan mantap Umar pun memutuskan untuk pulang, urung meneruskan perjalanan.

“Baiklah, besok pagi-pagi aku akan kembali. Karena itu, bersiap-siaplah,” imbau Umar. Namun rupanya, keputusan Umar pun harus kembali mendapatkan pertentangan. Abu Ubaidah mengungkapkan ketidak-puasannya.

“Wahai Amirul Mukminin, apakah kita hendak lari dari takdir Allah?” kata Abu Ubaidah. Mendengar pertanyaan Abu Ubaidah, Umar sedikit heran.

Dia berkata, “Mengapa kau, Ubaidah? Ya, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah yang lain.”kata Umar Bin Khattab sambil memberikan perumpamaan-perumpamaan yang lain.

Setelah Umar menejelaskan, datanglah Abdurrahman bin Auf menghadap. Dia berkata, “Aku mengerti masalah ini.” Abdurrahman pun mengabarkan bahwa ia pernah mendengar bahwa Rasulullah pernah bersabda; “Jika kalian mendengar ada wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah tersebut. Dan apabila kalian berada di wilayah yang terkena wabah, janganlah kalian keluar dan lari darinya. (HR Bukhari dan Muslim).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BERITA TERBARU

Rancangan Renduk PBWN-KP Jadi Acuan Pembangunan Kawasan Perbatasan 5 Tahun Kedepan

Harianmemokepri.com | Jakarta - Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) telah selesai merancangan Rencana Induk (Renduk). Renduk merupakan acuan bagi Kementerian/Lembaga anggota Badan Nasional Pengelola...

Group Siberindo