Sayuran Turut Sumbang Inflasi Tanjungpinang

ilustrasi tomat

TANJUNGPINANG – Bulan Oktober lalu, harga cabai merah yang melambung menjadi salah satu komoditi penyumbang inflasi di Kepri. Begitu juga dengan November.

Harga ikan dan daging serta sayuran seperti juga turut menyumbang angka inflasi November ini.

Dari data Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Tanjungpinang hingga bulan November 2016 mengalami kenaikan atau inflasi sebesar 0,30 persen.

Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepri, Panusunan Siregar. Lebih lanjut dia mengatakan, salah satu faktor penyebab kenaikan antara lain adanya perubahan harga pada komoditas kebutuhan masyarakat.

”Harga kebutuhan masyarakat itulah yang menjadi pemicu terjadinya inflasi di Kota Tanjungpinang November 2016. Terdapat 58 komoditas mengalami kenaikan dan juga 38 komoditas lain mengalami penurunan,” katanya kepada Tanjungpinag Pos, Jumat (2/12).

58 komoditas yang mengalami kenaikan harga atau tarif menurut Panusuran antara lain, cabai merah, bayam, cabai rawit, kangkung, kacang panjang, sawi hijau, ketimun.
Tomat sayur, kopi bubuk, bawang putih, pasta gigi, rokok kretek dan filter, cabai hijau, buku tulis bergaris, pembalut wanita, buncis, rokok kretek, mie kering instan, angkutan udara, tarif listrik dan santan jadi.

Sementara 38 komoditas lainnya yang mengalami penurunan harga yakni, tongkol, kemeja pendek katun, kembung, daging ayam ras, pepaya, cumi-cumi, telur ayam ras, belanak, apel, kepiting, pir, rampela hati ayam, kentang, lele, nangka muda dan air kemasan.
Untuk diketahui bersama, bila dilihat tingkat inflasi tahun kalender (November 2016 terhadap Desember 2015, red) sebesar 2,84 persen.

Tingkat inflasi tahun ke tahun (November 2016 terhadap November 2015, red) sebesar 3,72 persen. Sementara inflasi di Kota Tanjungpinang disebabkan naiknya indeks pada enam kelompok pengeluaran.

Yaitu kelompok pengeluaran bahan makanan 1,06 persen, kelompok pengeluaran kesehatan 0,33 persen, kelompok pengeluaran makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,21 persen, kelompok pengeluaran pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,15 persen, kelompok pengeluaran transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,04 persen.

”Dan kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,03 persen. Sebaliknya kelompok pengeluaran sandang mengalami penurunan indeks 0,62 persen,” ucapnya sambil menambahkan bahwa dari 23 kota IHK di Sumatera, semua kota mengalami inflasi.

”Inflasi kita masih ringan kok. Sebab inflasi tertinggi itu terjadi di Kota Pekanbaru yakni sebesar 1,3 persen. Kalau untuk inflasi terendah ada di Kota Bengkulu sebesar 0,06 persen,” tambahnya.

Dari data yang dihimpun awak media, ada 78 kota mengalami inflasi dan 4 kota yang mengalami deflasi.

Secara keseluruhan inflasi tertinggi terjadi di Kota Manado sebesar 2,86 persen dan inflasi terendah terjadi di Kota Singkawang 0,05 persen.

Untuk kategori sebaliknya, deflasi tertinggi terjadi di Kota Bau-bau sebesar 1,54 persen dan deflasi terendah terjadi di Kota Kendari sebesar 0,22 persen.

”Kalau kita urutkan, maka inflasi tertinggi dari 23 kota IHK di Sumatera, Tanjungpinang hanya di posisi ke-19 dari 23 kota yang mengalami inflasi,” paparnya.

Sedikit atau banyak, inflasi pasti dijadikan pertimbangan yang serius bagi masyarakat maupun pengusaha, seperti Ahui (43) salah satu pedagang di pasar Baru Kota Tanjungpinang mengaku merasakan dampak dari nnflasi tersebut.

Kerugian demi kerugian dialaminya karena tingkat penjualan semakin berkurang.

”Mau jual murah, kita rugi. Mau jual mahal tak ada yang mau beli. Jadi serba salah. Sementara pengeluaran jalan terus,” kata dia mengeluh.

sumber : tanjungpinangpos(dot)co(dot)id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here