Beranda Berita Memo Putus Penularan dan Sambung Silaturahmi

Putus Penularan dan Sambung Silaturahmi

Opini Oleh: Lutfi Humaidi
Doktor Ilmu Penyuluhan IPB, ASN Balitbang Kementerian Pertanian, Wakil Sekretaris Ansor Kota Tanjungpinang, dan Asisten KPAI 2010-2017

Serangan Covid-19 yang begitu masif memaksa kita untuk menyesuaikan diri. Pandemi ini mengubah cara beraktivitas seperti beribadah, belajar, bekerja, berbisnis, bersosial, dan lain sebagainya.

Semua aktivitas tersebut dituntut dilakukan di rumah. Bila memang terpaksa keluar rumah, gunakan masker, menjaga jarak, hindari kerumunan, dan batasi waktu di luar rumah. Segala upaya ini dimaksudkan untuk memutus mata rantai penularan virus.

Pemerintah tak pernah berhenti gaungkan untuk bersama-sama berkomitmen agar masyarakat saling menjaga dan melindungi satu sama lainnya.

Perlu kita tanamkan keyakinan bahwa kita bisa lindungi diri kita sendiri, anggota keluarga, lingkungan, orang lain yang sangat beresiko tertular virus ini, orang tua, orang penyakit kronis, yang risiko paling buruk apabila terinfeksi virus ini.

Oleh karena itu, strategi mengurangi penyebaran virus perlu terus diterapkan agar bisa memutus rantai penularan Covid-19. S

ecara konkret, langkah pengurangan penyebaran dapat dilakukan dengan berbagai cara yang saling berkaitan, mulai dari pengetesan suhu badan, isolasi, karantina, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), pembatasan fisik, penelusuran kontak, identifikasi kontak, hingga pencarian pola penyebaran.

Ini harus dipahami, disadari dan diikuti oleh semua orang. Siapa pun pada saat sekarang ini berpotensi terpapar.

Oleh sebab itu dengan mengikuti aturan protokol kesehatan, kita harapkan bisa meminimalisir penyebaran virus yang terjadi hampir di seluruh kota/kabupaten yang ada di Indonesia. Hal itu dilakukan guna memutus mata rantai penularan virus yang mematikan ini.

Perayaan Idul Fitri atau di Indonesia lebih familiar dengan sebutan Lebaran di masa pandemi masih bisa dijalankan meski harus menggunakan tata cara yang tidak melanggar protokol kesehatan.

Pandemi Covid-19 tak mengubah makna Lebaran. Hanya beberapa tradisi dilakukan adaptasi atau penyesuaian untuk mencegah penyebaran virus korona agar tidak semakin meluas.

Hari Raya Idul Fitri memang lekat dengan tradisi silaturrahim dan halal bi halal. Usai melaksanakan sholat Idul Fitri, masyarakat Muslim biasanya melakukan kegiatan silaturrahim yang diisi dengan saling maaf memaafkan dengan anggota keluarga yang lain dan tetangga.

Tradisi halal ini dilakukan dengan saling mengunjungi atau berkumpul untuk saling bersilaturahmi.

Anjuran Memelihara Silaturrahim

Silaturrahim dan halal bi halal yang biasa dilakukan dalam mengisi perayaan Idul Fitri tak boleh putus hanya karena virus corona.

Kita tetap dapat melakukan silaturrahim dan halal ni halal untuk sementara dengan menggunakan teknologi virtual.

Teknologi yang ada dapat kita manfaatkan untuk saling menyapa dan berjumpa di dunia maya dengan seseorang yang kita kehendaki, termasuk untuk menjalin silaturrahim dengan keluarga dan sanak saudara.

Sebagai makhluk sosial, tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri. Ia harus bisa berinteraksi dengan orang lain.

Di antara bentuk interaksi yang diatur dalam agama ini adalah silaturahmi. Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa menjalin silaturahmi hukumnya wajib dan memutuskannya merupakan dosa besar.

Hal ini berdasarkan perintah dari Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya (yang artinya), “Dan (peliharalah) hubungan silaturahim” (QS. an-Nisa’: 1).

Silaturahmi juga termasuk perkara yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, perintah ini sudah diketahui oleh orang-orang yang memusuhi beliau.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu memberitakan bahwa Abu Sufyan (yang saat itu masih kafir) pernah mengatakan kepada raja Heraklius tentang dakwah Nabi, dia berkata,“Muhammad memerintahkan kami shalat, sedekah, menjaga kehormatan dan silaturahmi”(HR. Bukhari).

Dalam kesempatan lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan mengancam orang-orang yang memutuskan silaturahmi dengan sabdanya, “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi (persaudaraan)” (HR. Bukhari dan Muslim).

Makna silaturrahim di dalam istilah syari’at, sesungguhnya bukanlah seperti yang difahami oleh banyak orang, yaitu berkunjung dan bertemu dengan orang lain, baik kerabat maupun bukan kerabat.

Namun makna silaturrahim di dalam istilah syari’at yang paling tepat adalah berbuat baik kepada kerabat dengan berbagai bentuk kebaikan.

Orang yang memutus silaturrahim jauh dari rahmat Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rahmat tidak akan turun kepada kaum yang padanya terdapat orang yang memutuskan tali silaturahmi.” (HR. Muslim).

Setelah mengetahui bahaya memutuskan tali silaturahmi dalam Islam, tentu kita bisa lebih berhati-hati.

Sekarang kita tahu bahwa menjaga silaturahmi antar kerabat dan sanak keluarga sangatlah penting. Tidak hanya untuk menjaga hubungan sosial kita tetapi juga menjadi tanda bahwa kita adalah orang-orang yang beriman.

Di Masa pandemi ini, masyarakat muslim agar tak menggelar acara saling kunjung-mengunjungi seusai sholat Idul Fitri.

Sebab, melakukan acara pertemuan seperti halal bi halal di masa pandemi Covid-19 ini sangat berisiko tinggi. Sebagai alternatif, untuk tetap menyambung silaturrahim dan saling menyampaikan maaf dilakukan dapat melalui teknologi seperti media sosial dan video call/conference., atau aplikasi lainnya. baik secara virtual atau video conference maupun pertemuan terbatas dengan tetap menjalan protokol Covid-19, salah satunya pertemuan terbatas dengan konsep sosial distancing.

Momen Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran bagi masyarakat Indonesia, memiliki makna yang mendalam. Aktivitas saling kunjung mengunjungi, bermaafan secara langsung, bercengkrama dalam lingkup silaturahmi tetangga hingga keluarga besar, sudah turun temurun dan mendarah daging.

Ritual Lebaran tanpa sapa dan jabat tangan langsung, rasanya hambar. Namun dengan berat hati kita harus disiplin melaksanakan protokol kesehatan di tengah Lebaran demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Jaga jarak, pakai masker, dan cuci tangan harus selalu menjadi rutinitas karena kita menghormati orang lain selain diri sendiri.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H/2020 M, Taqobbalallahu minna wa minkum (semoga Allah menerima ibadah kita semua). Mohon maaf lahir dan batin.

Iklan

 

 


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Segenap Crew Media Harianmemokepri.com Mengucapkan Selamat Hut Bhayangkara Ke 74

BERITA TERBARU