Penyakit Frambusia di Tanjungpinang Hingga Kini Belum Ditemukan

Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Tanjungpinang dr Elfiani Sandri ( foto Indrapriyadi/HarianMemoKepri.com )
Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Tanjungpinang dr Elfiani Sandri ( foto Indrapriyadi/HarianMemoKepri.com )

Tanjungpinang – Frambusia adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri berbentuk spiral (spirochete) yang dikenal sebagai Treponema pertenue. Frambusia biasanya ditularkan melalui kontak langsung dengan luka kulit yang terinfeksi dari individu yang terkena. Dalam beberapa kasus, frambusia dapat ditularkan melalui gigitan serangga yang terinfeksi.

Sebagian besar kasus frambusia terjadi pada anak-anak, di mana mereka menularkan bakteri saat bermain. Selain membuat anak kecil sakit, sekitar 10% anak yang tidak diobati berkembang menjadi dewasa muda dengan kelainan bentuk yang sangat melemahkan pada fase tersier-frambusia.

Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Tanjungpinang dr Elfiani Sandri menjelaskan penyakitnya ini adalah penyakit kulit jadi penularannya itu tentu lewat kontak langsung dan juga ketika kurang menjaga hygiene bisa terjadi.

“Kenapa ini menjadi perhatian, karena bisa menyebabkan kecacatan bahkan bisa menyerang tulang, artinya bisa menggangu pertumbuhan anak. Yang menjadi sasaran itu adalah anak-anak yang 15 tahun ke bawah bukan dewasa. Kita dalam rangka menciptakan generasi yang berkualitas kedepannya segala penyakit yang sangat rentan terhadap kita lakukan pencegahan,” jelas Sandri, Rabu (21/09 ).

BACA JUGA :  Meriahkan Ramadhan 1440 H, Bupati Natuna Buka Resmi Festival Musik Sahur 2019

Ia menambahkan untuk Kemenkes memiliki target tahun 2024 nanti Indonesia bebas dari Frambusia, sedangkan Tanjungpinang sendiri tahun 2023 dinyatakan bebas dari Frambusia. Pernyataan ini dikeluarkan oleh Kemenkes RI sendiri.

“Mereka yang datang ke daerah – daerah menilai sudah bisa di tetapkan sebagai daerah Kabupaten/Kota yang bebas Frambusia. Syaratnya daerah tersebut tidak pernah ada kasus Frambusia kemudian dalam enam bulan berturut-turut tidak terjadi kasus baru. Tanjungpinang sendiri sejak tahun 2012 hingga 2021 kita tidak pernah menemukan kasus Frambusia, tapi tetap kita harus melakukan deteksi dini di sarana kesehatan supaya waspada ketika ada yang mengarah kesana langsung cepat dilakukan pemeriksaan itu yang kita lakukan saat ini,” lanjutnya.

Sandri berharap kepada seluruh lapisan masyarakat penyakit seperti ini wajib di fahami bersama jika ada menemukan atau di curigai segera ke Puskesmas atau Rumah Sakit sehingga tim Dinas Kesehatan akan melakukan pemeriksaan laboratorium.

BACA JUGA :  SE Gubernur Kepri: Sholat Idul Adha dan Takbir Keliling Ditiadakan

Adapun ciri-ciri penyakit Frambusia, patek atau puru (bahasa Inggris: yaws) adalah infeksi tropis pada kulit, tulang dan sendi yang disebabkan oleh bakteri spiroket Treponema pallidum pertenue. Penyakit ini berawal dengan pembengkakan keras dan bundar pada kulit, dengan diameter 2 sampai 5 cm. Bagian tengah dari pembengkakan bisa pecah dan membentuk ulkus.Luka kulit awal ini biasanya sembuh setelah tiga sampai enam bulan.Setelah beberapa minggu sampai beberapa tahun, sendi dan tulang dapat terasa sakit, kelelahan dapat berkembang, dan luka kulit baru mungkin muncul. Kulit telapak tangan dan telapak kaki dapat menjadi tebal dan membuka.Tulang (terutama pada hidung) dapat berubah bentuk.Setelah lima tahun atau lebih daerah yang luas dari kulit bisa mati, meninggalkan bekas luka.

hut kepri gub wagub whatsapp image 2022 08 16 at 14.06.27 iklan media whatsapp image 2022 09 23 at 08.12.29

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.