Beranda Berita Kepri Pencegahan Penyakit Moler Bawang Merah dengan Trichoderma

Pencegahan Penyakit Moler Bawang Merah dengan Trichoderma

Harian Memo Kepri | Pertanian — Bawang merah adalah salah satu komoditas strategis yang banyak dibudidayakan. Budidaya bawang merah menghadapi beberapa risiko, salah satunya adalah serangan hama dan penyakit tanaman.

Penyakit tanaman dapat disebabkan oleh bakteri, virus, maupun fungi/cendawan. Salah satu contoh fungi yang berbahaya adalah Fusarium. Fusarium merupakan fungi tular tanah yang dikenal menyebabkan penyakit layu. Jenis tanaman yang rentan terserang antara lain cabai, terung, kentang, dan bawang merah.

Pada tanaman bawang merah, penyakit akibat Fusarium biasa disebut sebagai moler dan menyerang tanaman berumur 35-45 hari setelah tanam (HST). Namun waktu serangan dapat menjadi lebih awal apabila kualitas benih yang digunakan adalah rendah.

Tanda penyakit moler pada tanaman bawang merah adalah warna daunnya tampak kuning, tanaman cepat layu, bentuk daun terpelintir atau meliuk, serta tanaman mudah tercabut karena pertumbuhan akar terganggu dan membusuk. Pertanaman yang terserang juga akan mengalami pengurangan hasil yang signifikan.

Tricho3
Penampakan Fungi Trichoderma yang Diperbesar. Sumber: gardenerspath.com

Salah satu cara pengendalian penyakit ini adalah dengan menggunakan agens hayati, seperti Trichoderma. Bagi yang belum familiar, Trichoderma adalah suatu jenis fungi yang menguntungkan dan dapat digunakan untuk mengendalikan fungi penyebab penyakit (patogen) seperti Fusarium.

Trichoderma bekerja dengan cara meliputi Fusarium dan menghancurkan dinding selnya atau disebut proses parasitisme. Kemampuan Trichoderma untuk menghambat perkembangan Fusarium ini telah dibuktikan pada berbagai penelitian.

Namun perlu diingat bahwa pengendalian Fusarium dengan Trichoderma baru akan efektif jika aplikasinya dilakukan dengan tepat.Kepala BPTP Kepri, Dr. Ir. Sugeng Widodo, MP., menyampaikan di Kepulauan Riau jarang sekali petani membudidayakan bawang merah, berdasarkan data BPS (2019), produksi tahun 2015 hanya 1 ton pertahun, dan pada tahun 2019 meningkat menjadi 95 ton per tahun, sangat jauh dengan kebutuhan bawang merah di Kepri.

Selama ini bawang merah lebih banyak dipasok dari luar Kepri. Pengembangan budidaya bawang merah di Kepri juga mengalami kendala dari sisi ketersediaan benih bermutu yang lebih banyak didatangkan dari luar Kepri. Biaya produksi menjadi tinggi karena ongkos transportasi untuk pengiriman benih sangat mahal. Kendala lainnya adalah teknologi budidaya yang kurang dikuasai oleh petani khususnya dalam pengendalian OPT.

Pencegahan Penyakit Moler Bawang Merah (Allium ascalonium L.) dengan Trichoderma
Pencegahan Penyakit Moler Bawang Merah (Allium ascalonium L.) dengan Trichoderma

Hasil identifikasi menunjukkan bahwa serangan penyakit Moler menjadi faktor dominan yang menyebabkan kegagalan budidaya bawang merah di Kepulauan Riau. Serangan penyakit Moler yang merusak tanaman telah menyebabkan petani bawang merah di beberapa tempat mengalami kerugian.

Apalagi penyebaran penyakit ini begitu cepat di lahan. Oleh karena itu pada tahun 2020 Kepala BPTP Kepri Dr. Sugeng meminta tim Penelitinya untuk mengenalkan paket teknologi budidaya bawang merah dengan penggunaan aplikasi Trichoderma untuk mengendalian penyakit Moler dalam bentuk demplot di Kabupaten Bintan.

Aplikasi Trichoderma ini pada budidaya bawang merah dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  1. Aplikasi pada benih atau bahan tanam: Trichoderma diaplikasikan pada media persemaian (untuk tanaman bawang merah yang berasal dari biji (True Shallot Seed/TSS) agar dapat berkembang di sistem perakaran bawang merah seiring pertumbuhan tanaman.
  2. Dicampurkan dengan pupuk kandang: pupuk kandang dicampur dengan Trichoderma secara merata dan didiamkan beberapa hari agar menjadi kompos sebelum disebar ke lahan sebagai pupuk dasar. Pada proses pengomposan ini, timbul panas yang mematikan biji-biji gulma, patogen, dan mengurangi bau. Selain untuk pengendalian patogen, penambahan Trichoderma juga berfungsi untuk membantu proses dekomposisi pupuk kandang.
  3. Aplikasi pada bedengan tanam: Trichoderma disiramkan atau ditabur dan dicampur ke bedengan yang telah dipersiapkan paling tidak 2 minggu sebelum tanam. Hal ini memberi Trichoderma waktu untuk berkembang sehingga dapat mengendalikan pathogen sejak awal.

Dengan cara aplikasi tersebut, diharapkan Trichoderma memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang lebih dulu di tanah area pertanaman sehingga memiliki keuntungan dalam kompetisi dengan fungi patogen lain, terutama Fusarium.

Penulis | A.D. Alifia dan S.Widodo
Iklan

 

 


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Segenap Crew Media Harianmemokepri.com Mengucapkan Selamat Hut Bhayangkara Ke 74

BERITA TERBARU