Ketua Humas kepemudaan Desa Pekaka, Bustami (Herdoni)

Kepri HMK, Lingga -- Hubungan masyarakat (Humas) kepemudaan dan masyarakat desa yang ada di Kecamatan Lingga Timur menolak keras PT. Citra Sugi Aditya (CSA) yang akan melakukan penanaman pohon sawit di daerahnya.

Hal ini dibenarkan oleh Ketua Humas kepemudaan Desa Pekaka, Bustami, yang menyampaikan bahwa pihaknya akan melakukan upaya yang dianggap perlu untuk menyelamatkan lahan masyarakat dari kegiatan yang akan dilakukan oleh PT CSA tersebut.

"Bila perlu akan kita gerakkan masyarakat se-Kecamatan Lingga Timur untuk menolak keras masuknya PT CSA, penolakan ini semata hasil kesepakatan masyarakat Desa Pekaka dan Sungai Pinang," kata Bustami saat di konfirmasi melalui Line Whatsapp (WA), Senin (24/12/18) malam.

Dalam pesan itu juga Bustami menceritakan bahwa pada September 2015 lalu, pemilik PT CSA yang bernama Toyo, pernah datang dengan maksud mensosialisasikan tentang investasi perkebunan sawit di Desa Pekaka, tapi dengan tegas di tolak oleh masyarakat.

"Kalau sosialisasi pak Toyo di Pekaka saya agak lupa, mungkin sekitaran bulan September 2015, beliau mengaku sebagai pemilik perusahaan pada masa itu. Masyarakat di hari itu juga menolak tak mau tanah mereka ditanami sawit dengan alasan takut terjadi seperti di Linau," ucapnya.

Menurut Bustami, musyawarah penolakan kegiatan yang akan dilakukan PT CSA ini di laksanakan di Ruang Serba Guna Ude Ncop, Desa Pekaka, Kecamatan Lingga Timur, Jumat (5/4/18) lalu.

"Saya sebagai Ketua Humas kepemudaan, dan semua rekan pemuda Desa Pekaka sangat menyayangkan jika kegiatan ini tetap dilaksanakan, karena kami masih nyaman dengan semak belukar yang ada di desa kami, dan kami sangat bersyukur dengan hasil laut serta perkebunan sagu yang telah banyak melahirkan sarjana," katanya.

BACA JUGA :  MTQ ke VII Tingkat Provinsi Kepri, Sekda Kepri : Semua Kafilah Tampilkan yang Terbaik

Menurutnya, masyarakat tak ingin tanah mereka di kuasai oleh pihak manapun, walaupun dengan berbagai macam iming-iming.

"Karena sudah ada percontohan yang merugi, seperti contoh di Desa Linau yang telah terjadi dari belasan tahun lalu, kami tidak ingin hal ini juga terjadi di desa kami. Kami takut nantinya untuk mencari bahan baku kayu membuat rumah dan perahu pun sulit, jika hutan di tebang untuk di olah sebagai lahan sawit," ujar pria yang 2018 genap berumur 35 tahun ini.

Lanjut Bustami, harapan kami baik kepada pemerintah maupun investor, kalau benar ingin membangun lapangan ekonomi untuk masyarakat, kembangkanlah potensi ekonomi yang ada saja. Seperti sektor nelayan tradisional, pengembangan perkebunan sagu,
sampai menjadi nilai jual yang baik bagi masyarakat.

"Kami juga menghimbau kepada seluruh masyarakat, berhentilah mengharapkan sawit sebagai lapangan pekerjaan, sayangi hutan kita yang ada sekarang, karena ini adalah aset untuk anak cucu kita yang akan datang," tuturnya.

Sementara itu, Agustian (39), warga masyarakat sekitar lahan yang akan diolah oleh PT CSA mengatakan bahwa kegiatan penanaman sawit ditempatnya dianggap tidak efektif.

"Daripada tanam sawit lebih baik dikembangkan perkebunan sagu, angkatkan nilai harga nya, karena itu jelas hasilnya sudah dapat kita rasakan manfaatnya," kata Agustian.

Penulis : Herdoni
Editor  : Tomo

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.