Beranda Berita Memo Momentum Kebangkitan Nasional, Spirit Lawan Covid-19

Momentum Kebangkitan Nasional, Spirit Lawan Covid-19

Opini Oleh : Lutfi Humaidi

Doktor Ilmu Penyuluhan IPB, ASN Balitbang Kementerian Pertanian, Dosen STAI NU Kepri, dan Asisten KPAI 2010-2017

Sudah hampir 3 bulan tak terasa kita semua hidup di tengah pandemi virus Covid-19. Virus yang mudah menyebar ini, telah merubah segalanya. Aktivitas di rumah ibadah dibatasi, aktifitas bekerja di kantor dipindahkan ke rumah, aktifitas belajar mengajar dilakukan dengan jarak jauh, berkumpul dan segala aktivitas di luar rumah dibatasi, semua dilakukan dalam upaya menekan penyebaran virus.

Pada tanggal ini, 20 Mei 2020, ada momentum yang bisa kita jadikan pembalajaran yang sangat relevan untuk diterapkan di masa pandemi ini. Di hari ini adalah hari kebangkitan nasional. Sebuah hari yang didedikasikan untuk memperingati para pendahulu negeri ini, yang telah berhasil membangun negeri ini yang berawal dari organisasi Budi Oetomo.

Organisasi Budi Oetomo ketika itu telah berhasil membuat masyarakat melek, dan mendorong munculnya banyak organisasi di masyarakat. Melalui organisasi inilah yang kemudian mendorong masyarakat untuk saling belajar, saling menguatkan, dan saling mengatur strategi agar Indonesia bisa merdeka. Hasilnya alhamdulillah Indonesia akhirnya bisa merdeka dan lepas dari penjajahan.

Hari Kebangkitan Nasional ini, mari kita gunakan sebagai momentum untuk terus semangat melawan penyebaran virus Covid-19 yang masih belum dapat dikendalikan ini. Bagaimana caranya? Yakni mari kita tetap terus menjaga semangat untuk menjaga pola hidup sehat, bersih dari segala hal, dan menerapkan physical/social distancing.

Juga yang tak kalah pentingnya adalah, mari tetap semangat untuk berdonasi untuk meringankan saudara-saudara kita yang terdampak virus corona. Seperti kita tahu, virus ini tidak hanya bisa membunuh manusia. Tapi juga telah mengganggu segala sendi kehidupan kita semua.

Ramadan yang sebentar lagi akan meninggalkan kita telah banyak mengajarkan kita untuk mengendalikan hawa nafsu, saling berbagi dan peduli, saling menghargai dan menebar kebaikan.

Sementara kebangkitan nasional mengajarkan kepada kita untuk terus mengupdate informasi, untuk saling tenggang rasa dan tidak membedakan suku agama dan budaya yang ada di negeri ini.

Untuk itu, mari kita sinergikan antara semangat Ramadan dan kebangkita nasional untuk bisa bersikap di tengah pandemi ini.

Gagap dalam Menghadapi Pandemi

Saya telah amati di masa krisis ini, kita masih gagap menghadapi pandemi karena semua pihak yang berwenang masih berjalan sendiri-sendiri. Kekuatan massa untuk mendukung perjuangan melawan Covid-19 pun nampaknya masih lemah. Kita tahu bahwa sudah tiga bulan berlalu sejak pandemi Covid-19.

Situasi ini menghentikan hampir semua lini kehidupan manusia. Pandemi ini juga jelas menghantam roda perekonomian bangsa. Pemutusan hubungan kerja yang terjadi secara besar-besaran di pabrik-pabrik atau tergulungnya UMKM karena imbas pandemi mengakibatkan berkurangnya jumlah lapangan kerja dan tingginya angka pengangguran hingga berdampak sangat berat pada ekonomi keluarga para pekerja.

Perdebatan tentang pembatasan sosial antara lockdown, karantina dan PSBB, termasuk pembatasan transportasi umum yang membuat penumpukan penumpang di beberapa stasiun atau terminal. Dengan mengurangi jumlah kendaraan yang beroperasi, akibatnya terjadi penumpukan penumpang. Sementara moda transportasi umum yang dikelola BUMN belum melakukan hal yang sama.

Pemblokiran jalan di beberapa wilayah juga berakibat pada kemacetan. Pentupan sementara rumah ibadah dan masih diperbolehkan pasar atau mall buka tidak di sosialisasikan dan diberikan alasan secara jelas dan utuh.

Seharusnya kita dapat memberikan alasan bahwa analogi rumah ibadah dengan pasar dalam kasus corona, tidak nyambung atau apple to apple. Rumah ibadah/Masjid ada pengganti, sementara pasar tidak.

Melaksanakan sholat, bisa dimanapun asalkan tempatnya suci. Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh bumi telah dijadikan tempat sujud (masjid) untukku, dan sarana bersuci.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Pasar tidak sefleksibel tempat ibadah. Pasar tidak bisa digantikan. Masyarakat butuh makanan pokok, kebutuhan sehari-hari, obat-obatan dll. Mereka tak bisa menemukan itu di rumah, di sawah, di hutan, di gunung, di gua, di tengah gurun pasir.

Itu semua hanya bisa didapatkan di pasar. Sehingga meski masjid ditutup karena alasan pencegahan corona, ibadah tetap bisa dilaksanakan di rumah. Adapun jika pasar, toko, mall semua ditutup, kebutuhan makan dan kesehatan masyarakat tidak bisa terpenuhi.

Padahal menjaga nyawa juga kewajiban. Oleh karenanya para ulama hanya menghimbau menutup rumah ibadah, bukan pasar. Karena anjuran melaksanakan seperti sholat di masjid dapat tergantikan, masih bisa ditunaikan di tempat selain masjid.

Sementara kewajiban memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, tak dapat tergantikan, hanya bisa didapat di pasar, tak bisa digantikan.

Perintah untuk tidak mudik, masih dianggap tidak operasional karena memberikan perintah yang ambigu. Hal ini mengakibatkan terjadi kesulitan eksekusi peraturan di lapangan. Banyak meme di medsos yang mengejek kebijakan tersebut.

Masyarakat menjadi tidak tahu aturan yang mana yang harus diikuti dan mana yang harus dipercaya. Akhirnya mereka jadi mengambil jalan sendiri-sendiri karena semua aturan yang sudah ada terlihat longgar, contohnya kasus di bandara yang baru-baru ini dibuka kembali, penumpukan penumpang dan protokol social distancing tidak dapat dijalankan dengan disiplin. Bahkan konon ada yang nekad menjual surat keterangan sehat palsu.

Fakta menunjukan bahwa pergerakan masyarakat sejak pemberlakuan PSBB masih sangat tinggi yang berakibat pada naiknya jumlah kasus positif Corona di daerah-daerah.

Pemerintah daerah mendapat keleluasaan dalam menangani pencegahan penyebaran Covid-19. Meski ada kepala daerah yang bisa melakukan improvisasi dan lebih kreatif memaksimalkan dana APBDnya dalam penanganan Covid-19, sehingga tidak membebani pemerintah pusat.

Benarkah kita masih berjuang sendiri-sendiri untuk menurunkan kurva kematian Covid-19? Mengapa masyarakat masih tidak mau mengikuti anjuran pemerintah, seperti untuk tidak mudik, agar menjaga jarak sosial, dan tinggal di rumah? Sementara informasi sudah banyak tersebar di mana-mana dan mudah diakses.

Mengapa? Ini artinya informasi yang diterima oleh masyarakat tidak efektif. Lalu bagaimana kita bisa menyatukan tujuan dan menciptakan kesolidan di masa pandemi ini?

Momentum Menyatukan Tujuan Spirit Lawan Covid-19

1. Modal Sosial
Indonesia punya modal sosial yang kuat untuk mempercepat penanganan Covid-19. Dalam penanganan situasi saat ini kita memiliki relasi-relasi sosial seperti keterikatan empati, penghargaan dan penghormatan sehingga tercipta sikap gotong-royong dan tolong menolong.

Di beberapa pemberitaan, tidak sedikit dilihatkan ketika ada keluarga yang isolasi mandiri dan tetangga lainnya membantu. Sebelum pemerintah menginisiasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), anggota masyarakat saling bantu menyediakan sembako ataupun makanan.

Pengalaman sebelumnya modal sosial dapat mempercepat pemulihan bencana seperti saat tsunami Aceh 2004. Modal sosial termasuk jejaring sosial dan rasa saling percaya memegang peranan penting dalam mitigasi atau percepatan penanganan bencana.

Dari situasi kebersamaan yang tidak dipaksakan, anggota komunitas kemudian menjalankan kewajibannya dengan kerelaan yang tinggi. Hal ini tentunya dapat membantu pencegahan persebaran Covid-19. Kepemimpinan lokal dan budaya saling bantu masih hidup dalam banyak komunitas.

2. Inovasi dan Kolaborasi
Menyikapi dampak Covid-19 di Indonesia, upaya yang dilakukan pemerintah antara lain mencanangkan social distancing melalui working from home (WFH) atau distance learning yang mengubah perilaku sosial dan kerja masyarakat.

Hal ini memerlukan perubahan mindset masyarakat dan perlu dilaksanakan secara konsisten untuk mencegah meluasnya penyebaran Covid-19. Selain itu kolaborasi pemerintah dengan masyarakat dan swasta juga dapat dilakukan dalam upaya penanggulangan wabah Covid-19.

Memiliki komitmen tinggi untuk berkolaborasi dan berinovasi bersama akan mempermudah dalam penanganan pandemi. Misalnya kerjasama pusat data dan hasil riset (repository) dari lingkungan akademisi, praktisi dan lembaga pemerintah dengan mudah akan dapat diakses dan dipergunakan oleh semua pemangku kepentingan.

Kerjasama sosialisasi kebijakan pemerintah dan tokoh agama akan mempercepat aturan dapat diterima dan diimplementasikan oleh masyarakat.

3. Perkuat Teknologi Informasi dan Komunikasi
Guna mendukung tuntutan kerja di rumah dan belajar jarak jauh, maka penting dipastikan perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi berjalan dengan baik, lancar, dan optimal.

Dengan demikian, setiap pegawai, guru, dosen, mahasiswa, dan pelajar dapat menjalankan tugas-tugas seperti hari-hari biasanya. Pola pengecekan hardware, software, infrastruktur jaringan dan sistem informasi perlu secara rutin dilakukan.

Melalui modal sosial, inovasi dan kolaborasi, serta diperkuat dengan teknologi informasi dan komunikasi itulah yang akan membantu menyatukan tujuan spirit kebangkitan nasional dalam melawan pandemi Covid-19.

Optimisme harus terus kita gaungkan sejalan dengan karya nyata. Sesungguhnya karya nyata itulah inspirasi untuk kebangkitan. Machtspolitik yang pernah digaungkan oleh Presiden Soekarno bisa lahir kembali jika perayaan Kebangkitan Nasional kali ini berpijak pada kewajiban negara, kesadaran bersama, serta persatuan anak bangsa dalam memerangi Covid-19. (red)

Iklan

 

 


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Segenap Crew Media Harianmemokepri.com Mengucapkan Selamat Hut Bhayangkara Ke 74

BERITA TERBARU