Beranda Berita Memo Memaknai Idul Fitri Saat Pandemi

Memaknai Idul Fitri Saat Pandemi

Opini Oleh: Lutfi Humaidi

Doktor Ilmu Penyuluhan IPB, ASN Balitbang Kementerian Pertanian, Dosen STAI NU Kepri, dan Asisten KPAI 2010-2017

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Di antara salah satu hal yang dilakukan umat Islam di seluruh dunia untuk menghidupkan hari raya Idul Fitri adalah mengumandangkan takbir.

Hal ini sesuai anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam haditsnya yang berbunyi:

زينوا اعيادكم بالتكبير

“Hiasilah hari raya kalian dengan memperbanyak membaca takbir.” Anjuran memperbanyak takbir ini sepadan dengan imbalan yang dijanjikan karena sabda Rasulullah:

اكثروا من التكبير ليلة العيدين فانهم يهدم الذنوب هدما

“Perbanyaklah membaca takbiran pada malam hari raya (fitri dan adha) karena hal dapat melebur dosa-dosa.”

Hari Raya Idul Fitri merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan. Idul Fitri memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa yaitu menjadi manusia yang bertaqwa.

Idul Fitri bisa berarti kembalinya kita kepada keadaan suci, atau keterbebasan dari segala dosa dan noda sehingga berada dalam kesucian (fitrah).

Jadi yang dimaksud dengan Idul Fitri dalam konteks ini berarti kembali kepada asal kejadiannya yang suci dan mengikuti petunjuk Islam yang benar.

Bagi umat Islam yang telah lulus melaksanakan ibadah puasa di Bulan Ramadhan akan diampuni dosanya, sehingga menjadi suci kembali seperti bayi yang baru dilahirkan dari kandungan Ibunya.

Sebelum ajaran Islam diturunkan kepada Rasulullah, masyarakat Jahiliyah Arab sudah memiliki dua hari raya, yakni Nairuz dan Mahrajan.

Diterangkan dalam kitab Ensiklopedi Islam ’Nairuz dan Mahrajan merupakan tradisi hari raya yang berasal dari zaman Persia Kuno.

Kaum Arab Jahiliyah menggelar kedua hari raya itu dengan menggelar pesta-pora. Selain menari-nari, baik tarian perang maupun ketangkasan, mereka juga merayakan hari raya dengan bernyanyi dan menyantap hidangan lezat serta minuman memabukkan.

Sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan An-Nasa’i, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR Daud dan Nasai).

Perayaan Idul Fitri memiliki akar sejarah yang kuat dalam peradaban Islam. Setelah turunnya kewajiban menunaikan ibadah puasa Ramadhan, umat Islam merayakan Idul Fitri pertama kali seusai Perang Badar pada tahun kedua Hijriyah (624 M).

Pada tahun itu, Rasulullah dan para sahabat merayakan dua kemenangan, yakni keberhasilan mengalahkan pasukan kaum kafir Quraisy dalam Perang Badar dan menaklukkan hawa nafsu setelah sebulan berpuasa.

Dari sinilah lahirnya ungkapan “Minal ‘Aidin wal Faizin” yang lengkapnya ungkapan doa kaum Muslim saat itu: Allahummaj ‘alna minal ‘aidin walfaizin -Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kembali (dari Perang Badar) dan mendapatkan kemenangan.

Menurut sebuah kisah, Rasulullah dan para sahabat menunaikan Shalat Id pertama kali dalam kondisi luka-luka yang masih belum pulih akibat Perang Badar.

Rasulullah pun dalam sebuah riwayat disebutkan, merayakan Hari Raya Idul Fitri pertama dalam kondisi letih. Sampai-sampai Rasulullah bersandar kepada Bilal RA dan menyampaikan khotbah Id.

Kemudian setelah Sholat Id para sahabat saling bertemu dengan mengucapkan doa “Taqobbalallahu minna waminkum” yang artinya “Semoga Allah menerima ibadah kita semua”.

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata, bahwa jika para sahabat Rasulullah Saw berjumpa dengan hari ‘id (Idul Fitri atau Idul Adha), satu sama lain saling mengucapkan:

“Taqobbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian).”

Saat Idul Fitri, Rasulullah juga mengunjungi rumah para sahabat, meskipun sehari-hari sering bersama para sahabat.

Rasul juga tetap menerima kunjungan dengan jamuan yang baik pada para tamu yang hadir. Anjuran ini terus dipertahankan oleh para khalifah, tabi’in dan seluruh umat Rasulullah hingga sekarang.

Idul Fitri di Saat Pandemi Covid-19

Menyikapi situasi yang terjadi saat ini, ketika umat Islam di Indonesia menghadapi bulan Ramadan dan Idul Fitri dalam masa pandemi Covid-19, MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengeluarkan Fatwa Nomor 28 Tahun 2020 tentang Panduan Kaifiat Shalat Idul Fitri saat Pandemi Covid-19. Panduan tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut:

1. Setiap muslim dalam kondisi apapun disunahkan untuk menghidupkan malam Idul Fitri dengan takbir, tahmid, tahlil menyeru keagungan Allah.

2. Waktu pelaksanaan takbir mulai dari tenggelamnya matahari pada akhir Ramadan hingga jelang dilaksanakannya salat Idul Fitri.

3. Disunahkan membaca takbir di rumah, di masjid, di pasar, di kendaraan, di jalan, di rumah sakit, di kantor, dan di tempat-tempat umum sebagai syiar keagamaan. Pelaksanaan takbir bisa dilaksanakan sendiri atau bersama-sama, dengan cara jahr (suara keras) atau sirr (pelan).

4. Dalam situasi pandemi yang belum terkendali, takbir bisa dilaksakan di rumah, di masjid oleh pengurus takmir, di jalan oleh petugas atau jamaah secara terbatas, dan juga melalui media televisi, radio, media sosial, dan media digital lainnya.

5. Umat Islam, pemerintah, dan masyarakat perlu menggemakan takbir, tahmid, dan tahlil saat malam Idul Fitri sebagai tanda syukur sekaligus doa agar wabah Covid-19 segera diangkat oleh Allah.

Di masa pandemi Covid-19, perayaan Idul Fitri atau di Indonesia lebih familiar dengan sebutan Lebaran masih bisa dijalankan meski harus menggunakan tata cara yang tidak melanggar protokol kesehatan.

Pandemi Covid-19 tidak mengubah makna Lebaran. Hanya beberapa tradisi yang berubah seiring dengan kebutuhan untuk mencegah penyebaran virus korona agar tidak semakin meluas.

Silaturrahim dan Halal bi Halal dalam mengisi perayaan Idul Fitri yang sudah menjadi tradisi tetap dapat lakukan untuk sementara dengan teknologi virtual.

Karena, jika budaya ini kita lakukan secara langsung bisa sangat beresiko di tengah pandemi Covid-19 yang penyebarannya terus alami peningkatan.

Teknologi yang ada dapat kita manfaatkan untuk saling berjumpa di dunia maya dengan seseorang yang kita kehendaki, termasuk untuk menjalin silaturrahim dengan keluarga yang ada di kampung halaman.

Lebaran digital di masa pandemi ini, dapat menjadi solusi memaksimalkan silaturrahim dan saling berkomunikasi dengan keluarga.

Berkunjung dan showan ke orang tua, sanak saudara dan teman-teman sementara dapat dilakukan secara online.

Semua orang pasti memahami jika momentum lebaran kali ini sangat berbeda, namun lebaran virtual bisa mengobati rasa rindu dengan keluarga dan orang-orang terdekat. Taqobbalallahu minna wa minkum (semoga Allah menerima ibadah kita semua).

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H/2020 M, mohon maaf lahir dan batin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BERITA TERBARU

Group Siberindo