“Kita Semua Bersaudara”. Budaya Melayu Adalah Payung Pemersatu Etnis dan Suku

8
Sekretaris Laruka Tanjungpinang, Syaiful Amri (Foto :Istimewa)

Oleh : Syaiful Amri, Sekretaris Lembaga Amanah Riau Hulu Kuala (LARUKA) Tanjungpinang

Kebudayaan Melayu ternyata menjadi payung persatuan antar suku. Hal ini terjadi di Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) kerukunan etnis terpelihara dengan baik.

Orang-orang asing menyebut negeri melayu yakni Riau dan Kepri sebagai “the most rich province in Indonesia”. Predikat tersebut nampak berlebihan, meski ada benarnya. Hasil minyak buminya lebih dari 650.000 barel sehari dan sumber daya alamnya juga mengandung timah, bauksit, batu bara, granit, emas dan berbagai produk lainnya yang bernilai tinggi.

Sedangkan hasil hutannya juga luar biasa. Baik berupa kayu gergajian, “plywood”, “pulp” dan beragam produk lainnya. Dan ini sebagian besar di wilayah Provinsi Riau terdiri dari hutan dan perkebunan.

Dahulu (Kepri masih bersama Riau) menjadi ajang lalu lintas berbagai suku dan bangsa. Bahkan di abad 15 berfungsi menjadi tempat persinggahan bangsa-bangsa Portugis, Belanda, Inggris, Arab, Cina dan India.

Keunikan lainnya yang menonjol masyarakatnya majemuk. Hampir berbagai suku di Indonesia ada Bumi melayu. Kita hidup sejak lama dalam kebudayaan yang sama, bersatu dengan etnik lain dan membangun masyarakat multirasial.

Karena itu, jangan heran suasana majemuk mewarnai kehidupan di Riau dan Kepri. Ada beberapa suku yang hidup, misalnya Melayu, Bugis, Minangkabau, Batak, Jawa, Flores, Banjar, Minahasa dan Buton.

Dengan demikian Bumi Melayu dapat dikatakan sebagai “miniatur Indonesia”. Kehidupan antara satu suku dengan lainnya berlangsung sangat baik. Meski kadang kala ada gesekan, sifatnya hanya pribadi dan dalam skala kecil.

Itulah sebabnya dalam beberapa kali baik Pemilihan Umum (Pemilu) maupun Pemikihan Kepala Daerah (Pilkada) selalu dalam kondisi yang sangat aman. Walaupun beberapa daerah kecil juga merupakan lintasan kegiatan kelompok destruktif. Tetapi tidak menggoyahkan sendi persatuan “Bhineka Tunggal Ika”.

Kebudayaan Melayu berfungsi sebagai payung dalam kemajemukan suku. Menurut budayawan Riau yang menadapat gelar DR Honoris Causa di Malaysia, Tenas Effendy, masyarakat Riau selalu terbuka dan toleran terhadap suku lain. “Komunitas tempatan tidak suka berselisih dengan etnik lain, selama menjaga kehormatan dan tata susila masing-masing,” tuturnya

Sejak abad 15 sampai dengan abad 21, alam bumi melayu bersifat terbuka. Artinya tidak tabu terhadap masuknya suku-suku lain. Namun yang harus dipelihara adalah kerukunan dengan tidak membangkitkan sentimen suku dan agama. Hal ini terbukti dengan kebebasan suku-suku lain melakukan tradisi sehari-hari.

BACA JUGA :  Opini : 5 Tanda Ini Bisa Mengetahui Pria Itu Perjaka Atau Tidak

Misalnya, orang Jawa boleh main ketoprak/wayang sampai pagi. Orang Batak tidak dilarang menari “Manotor”, Orang Minangkabau tidak mengalami hambatan dengan suguhan tari dan nyanyi. Bahkan orang Banjar sekali-kali memainkan teater tradisional bernama “Mamanda”, yang penuh dengan kias dan lambang.

Kebesaran suku Melayu tidak lepas dari pengaruh masa lampau, Kesultanan Lingga, Siak dan Indragiri. Sebab wilayah kekuasaan para sultan yang pernah memerintah Kepulauan Riau meliputi pula Singapura dan Malaysia.

Keadaan ini menjadikan adanya hubungan timbal balik dengan kedua negeri jiran tersebut. Arus kebudayaan Melayu bersifat universal. Baik di lingkungan kesultanan yang ada di Riau maupun dengan Singapura dan Malaysia, yang berfungsi sebagai perekat persatuan.

Kedekatan hubungan sesama rumpun Melayu juga tertumpu, karena kesamaan tradisi dan kedekatan geografis. “Hal inilah yang membuat Riau dan Kepri benar-benar terbuka bagi siapa saja,” kata Tenas Effendy. Bahkan jika dibuat garis lurus sepanjang pantai timur dan gugusan kepulauannya, terdapat 232 desa yang berhadapan langsung dengan negeri jiran tersebut.

Yang tidak kalah pentingnya, bahasa Melayu merupakan “lingua franca”. Sehingga bukan saja komunitas dari Singapura dan Malaysia yang menggunakannya, tetapi juga suku-suku lain di Indonesia.

Di saat masing-masing daerah di Indonesia teguh mempertahankan bahasanya sendiri, ternyata bahasa Melayu bisa diterima sebagai instrument komunikasi. Sehingga para pedagang dari luar, dapat bergaul dan bertutur kata tanpa mengalami kesulitan dengan penduduk setempat.

Bahkan dalam penglihatan sejarah nasional, bahasa Melayu mampu mempersatukan berbagai suku di Indonesia. Ada kemudahan-kemudahan dalam bertutur kata dan kalimat,  Sehingga dalam berkomunikasi lebih lancar. Bahkan akhirnya semua suku yang jumlahnya besar mengakui bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia.

Sumbangan terbesar Riau dan Kepri bagi Indonesia tidak semata-mata karena sumber daya alamnya. Tetapi ada fakta sejarah lahirnya bahasa Indonesia yang bermula dari Bumi Melayu. Sehingga mampu mempersatukan semua suku.

Karena itu sangat amat disayangkan apabila karena suatu perselisihan terhadap dukung mendukung Paslon pada Pemilu ataupun Pilkada dapat merusak persatuan yang telah terpupuk puluhan bahkan ratusan tahun lalu di Bumi Melayu. Dan akhirnya terucap sebuah kalimat “Kita Semua Bersaudara”. (Tulisan dikirim melalui email redaksi, Tanggal 06/3/2018)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.