Beranda Berita Memo Kartini Kini Melawan Pandemi

Kartini Kini Melawan Pandemi

Oleh: Lutfi Humaidi

Doktor Ilmu Penyuluhan Pembangunan IPB, ASN Balitbang Kementerian Pertanian dan Asisten KPAI 2010-2017

Hari ini 21 April 2020 telah tiba, ulang tahun ibu Kartini. Dihadirkannya sosok Kartini, di bulan ini, diantaranya untuk mengapresiasi aktualisasi peran perempuan dalam melawan pandemi. Perempuan (ibu) menjadi mitra laki-laki (bapak) dalam pembentuk atmosfir kehidupan keluarga yang sehat, kuat, terlindungi, dan harmonis.

Kita sudah menjalani masa kegalauan satu bulan lebih. Harapan dan Do’a semua insan di Indonesia agar Covid-19 cepat berlalu dari bumi pertiwi. Seperti judul buku karya Kartini “habis gelap terbitlah terang”. Kondisi yang sangat dinanti oleh semua penduduk negeri.

Raden Ajeng (RA) Kartini berpesan kepada kaum perempuan Indonesia dan dunia:“Habis malam datanglah siang, habis topan datanglah reda, habis perang datanglah menang, habis duka datanglah suka”, Mustahil cahaya akan datang, bila tiada didahului oleh gelap. Tuhan tidak pernah menjanjikan langit terus cerah tanpa mendung. Air laut air laut tak pernah pasang terus tanpa surut.

Tapi Allah Tuhan Yang Maha Kuasa telah menjanjikan, fa inna ma’al ‘usri yusra, wa inna ma’al ‘usri yusra. Bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Bersama penyakit pasti ada obatnya. Bahkan bersama musibah, di sana ada berkah.

Pesan RA Kartini itu menunjukkan, bahwa Kartini sebenarnya mengajak kepada setiap perempuan yang ada di muka bumi ini, khususnya di Indonesia untuk tidak membiarkan dirinya berada dalam kegelapan, kesedihan, dan ketakutan yang berlebihan meski sedang dihadapkan dengan ujian serius pandemi Covid-19.

Meski ada pandemi, setiap subyek keluarga (bapak, ibu, dan anak) harus tetap semangat atau giat melakukan banyak aktifitas inovatif, kreatif dan solutif yang berpusat dari rumah. Kartini mengajak kepada perempuan Indonesia bisa mewujudkan apa yang disebut dengan era terang benderang atau era keemasan (golden era).

Pandemi mengharuskan kegiatan belajar anak di sekolah diganti lewat e-learning, belajar jarak jauh secara darling. Perjuangan seorang perempuan (ibu) sangat terasa begitu sang anak tidak mau dibimbing mengerjakan tugas dari sekolah oleh bapaknya. Sementara pekerjaan dapur juga tetap dibebankan pada sang ibu juga.

Bagi sang ibu yang mempunyai tugas kantor, terpaksa menjalankan berbagai peran dalam sehari. Lebih parahnya lagi, jika anak lengket dan ingin selalu dekat dengan sang ibu, bapak tidak ada upaya mengambil hati anaknya.

Anak-anak yang berada di rumah jangan dianggapnya sebagai beban, melainkan amanat yang membutuhkan pengerahan kemampuan etik dan edukatif dari ibu dan bapak. Tapi kenyataanya tanggung jawab rumah dan tumbuh kembang anak ternyata tetap mayoritas berada di tangan perempuan.

Para laki-laki di dunia ini, tidak pernah menolak ide tentang gender equality. Namun kenyataanya, ketika kembali ke rumah, maka nilai-nilai tradisional masih mendominasi. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa di Negara paling majupun Amerika Serikat dengan perjanjian paling equal saja, pada kenyataannya tugas rumah tangga perempuan dibanding laki-laki tetap 60 berbading 40.

Menjaga Hubungan dan Komunikasi

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan Kartini masa kini dalam melawan pandemi, yaitu bekerjasama, dan saling menghormati, dan membangun komunikasi efektif.

Pertama bekerjasama, yaitu bekerja yang melibatkan hati dan pikiran, bekerja yang menyatukan persepsi dan konsep, bekerja yang berangkat dari visi dan misi serta tujuan yang satu, bekerja yang melahirkan sikap seperjuangan, bekerja yang melahirkan simpul-simpul penyatuan antar pribadi.

Di dalam kerja sama dibutuhkan sikap persaudaraan dan persahabatan sehingga di dalam niat akan tercipta rasa aman dan memperoleh dukungan antara aku dan keluargaku. Yang menjadi kerjasama adalah ketaatan dan kesetiaan kepada komitmen pribadi. Dalam keluarga akan tercipta suasana yang harmonis bila terjalin kerjasama yang baik antara semua anggota keluarga. Termasuk dalam melawan pandemi ini kita dituntut harus mau bekerjasama baik dengan pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, guru dan sekolah, dan lingkungan sekitar.

Kedua saling menghormati, yaitu menciptakan budaya saling menghormati ini sangat penting, mengingat keluarga adalah tempat pertama dimana pribadi seseorang akan terbentuk. Mulailah dengan menghormati anggota keluarga terlebih dahulu, kemudian anda akan terbiasa untuk menghormati orang-orang di sekitar anda. Peran keluarga untuk mewujudkan sikap saling menghormati satu sama lain sangat dibutuhkan.

Pasalnya, setiap orang tentu ingin dihormati, begitu pun diri kita sendiri. Oleh karena itu, cobalah menghormati anggota keluarga lainnya, sama seperti anda ingin dihormati oleh mereka. Kita dalam melawan pandemi juga penting menjaga sikap saling menghormati seperti tidak batuk didepan orang, menggunakan tutup/masker, dan selalu menjaga kebersihan.

Ibu maupun bapak hendaknya jangan lebih mementingkan kepentingan pribadi dan memaksakan kehendaknya untuk dilakukan anaknya tanpa melihat kemampuan anaknya. Demikian sebaliknya dengan seorang anak, janganlah melakukan sesuatu hal berdasarkan keinginan, selera, atau apa yang menyenangkan dirinya.

Orang tua harus tahu kemampuan anaknya dan sebaliknya anak juga harus mengerti yang diinginkan orangtua terhadap dirinya. Dalam mewujudkan suatu kerjasama yang baik di antara ibu, bapak dan anak, sikap saling mengerti, seperasaan atau sehati sangat dibutuhkan.

Ketiga komunikasi efektif, yaitu komunikasi yang mengedepankan kejujuran, keterbukaan, baik dengan kata-kata maupun dengan isyarat. Tanpa komunikasi efektif sulit bagi kita untuk mampu membentuk atmosfir keluarga yang harmonis apalagi di tengah pandemi. Dalam komunikasi yang jujur, benar, setiap anggota keluarga inti (ibu, bapak dan anak) dapat mengungkapkan pikiran-pikirannya, terutama mengenai perasaan yang terdalam tentang apa yang mereka alami dalam menjalani aktivitas kehidupan di rumah saja, tanpa merasa takut ditolak, karena tahu bahwa mereka saling menerima dan mencintai.

Jika komunikasi dalam keluarga berjalan dengan efektif, maka banyak kesulitan dan permasalahan dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Namun bila komunikasi antar keluarga mengalami hambatan, maka banyak permasalahan dan problem keluarga yang tidak dapat dipecahkan.

Komunikasi yang baik akan memperdalam relasi cinta kasih di dalam keluarga. Begitu juga dengan terkait dengan pandemi, kita harus terus menjaga komunikasi dengan mengabarkan kondisi kesehatan baik dengan kantor maupun di lingkungan keluarga, intensif menjalin komunikasi dengan guru tempat anak sekolah, dan komunikasi dengan stakeholder lainnya terkait Covid-19.

Akhirnya, penulis mengajak mari kita persiapkan diri untuk menyambut bulan penuh ampunan dan barokah, dengan suka cita. Orang yang senang mendengar datangnya bulan suci Ramadhan, akan dijauhkan dari api neraka. Yakinkan kita bahwa pandemi akan segera berakhir dan tetap berdo’a kepada Allah.

Mohon ampunan dan bertaubatlah, jadikan pandemi ini sebagai penguat iman kita, pengingat akan kematian yang pasti, menjadi semakin rendah diri dan cinta pada yang suci. (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BERITA TERBARU

Rancangan Renduk PBWN-KP Jadi Acuan Pembangunan Kawasan Perbatasan 5 Tahun Kedepan

Harianmemokepri.com | Jakarta - Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) telah selesai merancangan Rencana Induk (Renduk). Renduk merupakan acuan bagi Kementerian/Lembaga anggota Badan Nasional Pengelola...

Group Siberindo