oleh

Kadis DP3 Tanjungpinang: Tanah Bouksit Tidak Cocok Ditanami Jagung

Harianmemokepri.com | Tanjungpinang — Memiliki stuktur tanah dengan lahan pasca penambangan bauksit. Membuat Pemko Tanjungpinang tidak bisa memenuhi permintaan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo agar menyediakan lahan 100 hektar untuk ditanami Jagung.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (Dp3 Tanjungpinang), Drs Ahadi mengatakan bahwa sebagian besar lahan di Tanjungpinang merupakan lahan bekas penambangan bauksit sehingga tidak cocok untuk ditanami jagung.

“Bukan kita tidak mau merespon permintaan Kementan, hanya saja mengingat lahan kita sebagain besar bauksit,” ucapnya.

Ahadi melanjutkan,untuk pengolahan lahan bekas bouksit membutuhkan kerja keras. Pasalnya struktur tanah tersebut sangat keras sehingga harus menggunakan traktor untuk pengolahannya.

Sementara diakuinya, Dp3 sendiri tidak memiliki traktor untuk dipinjamkan kepada petani.

“Tanah kita ini keras, jadi pengolahannya harus menggunakan traktor,” ujarnya.

Ditambah lagi, biaya operasional untuk perawatan tanaman jagung tidak seimbang dengan hasil penjualannya. dikarenakan perawatan penanaman jagung di lahan bekas bouksit harus ekstra.

Hal ini berbeda dengan struktur tanah di Jawa yang subur, sehingga perawatan tanaman jagung tidak perlu semaksimal mungkin.

“Pupuknya harus banyak, apalagi bantuan tersebut hanya jagung sipil. Jika dipasarkan harga jual hanya kisaram Rp 6 ribu. Dengan begitu, hasil jual dengan perawatan malah mendapat kerugian petani kita,” jelas Ahadi.

Bp Batam 2020
BACA JUGA :  Pelatihan Konvensi Hak Anak, Sekda: Ikuti Kegiatan Dengan Baik, Untuk Pemahaman Anak di Anambas

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.