Beranda Berita Kepri Jambu Air Madu Deli Hijau di Batam Siap Ekspor ke Singapura

Jambu Air Madu Deli Hijau di Batam Siap Ekspor ke Singapura

Harian Memo Kepri | Pertanian — Syzygium aqueum atau yang lebih dikenal dengan jambu air madu deli hijau merupakan salah satu buah yang beberapa tahun teakhir ini sangat diminati oleh berbagai kalangan masyarakat.

Rasanya yang manis seperti madu, ukuran buah yang besar dan tanpa biji kerap menggoda mata sekaligus lidah untuk menikmatinya.

Kandungan air dan vitamin C yang tinggi membuat para penggemar jambu tak hanya merasakan kesegarannya namun, juga merasakan khasiatnya untuk kesehatan.

Jambu yang awalnya sukses dibudidayakan di Sumatera Utara ini, kini sudah mulai banyak dikembangkan di Batam, Kepri.

Karakteristik jambu air madu deli hijau ini antara lain tidak memiliki biji, ukurannya mencapai 200-300 gram per buah, warna kulitnya hijau muda mengkilap, dan jika dipelihara dalam pot atau polybag rasanya manisnya menjadi luar biasa.

Jambu ini termasuk jenis tanaman buah super genjah, tidak mengenal musim dan sangat produktif. Dalam umur satu tahun, tanaman ini dapat mencapai masa produktif dengan panen raya sampai 3 kali dalam satu tahun sehingga total buah yang diproduksi bisa mencapai sekitar 30 kg per pohon per tahun.

Tanaman ini merupakan tanaman tropis yang tumbuh dengan baik di dataran rendah maupun dataran tinggi selama mendapatkan sinar matahari yang cukup sepanjang hari. Namun lebih optimal buahnya bila dibudidayakan di lahan dataran rendah-medium (100-600 mdpl).

Karakteristik tanah yang dibutuhkan gembur dengan tingkat keasaman yang tidak terlalu tinggi. Tanaman ini membutuhkan kelembaban yang cukup tinggi tetapi tidak dapat tumbuh baik bila di sekitar akarnya terdapat genangan air.

Syarat tumbuh yang mudah dengan tidak membutuhkan lahan yang luas karena dibudidayakan di polybag. Jambu air madu deli hijau ini mulai dikembangkan dalam skala yang luas dengan ribuan pohon tanaman dalam polybag di Kota Batam oleh petani maju yang dikawal langsung oleh Kadin Batam dalam membantu ekspor ke negara tetangga khususnya Singapura.

Ali Ulay salah seorang pengusaha pertanian yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Batam telah lama melakukan pendampingan secara intensif budidaya jambu air madu deli hijau ini.

Dalam kesempatan ini Kepala BPTP Kepri, Dr. Ir. Sugeng Widodo, M.P., bersama tim peneliti dan penyuluh serta beberapa anggota Kadin, Gugus Tugas, DPRD Kepri melakukan kunjungan kerja ke lokasi budidaya di Kawasan Sei Lekop, Kecamatan Sagulung, Kota Batam. Ali Ulay meminta kepada BPTP Kepri untuk bersedia mendampingi teknologi budidaya agar lebih baik lagi.

“Saya berharap nantinya dengan pendampingan BPTP Kepri kualitas dan kuantitas produksi jambu air madu deli hijau ini semakin meningkat dan mampu memenuhi standar ekspor,” ungkap Ali.

Sarana dan prasarana untuk mendukung ekspor akan dibantu swasta dan Kadin sedangkan regulasi perizinan ekspor akan bekerjasama dengan Balai Karantina Pertanian Kepri.

Harapan petani yang begitu besar terhadap pendampingan dari BPTP Kepri, Dr. Ir. Sugeng Widodo, MP., selaku kepala menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan ke BPTP Kepri. Pada tahap awal Tim Teknis BPTP Kepri langsung melakukan survei lokasi dan identifikasi masalah dan sekaligus pengambilan contoh tanah untuk menentukan kesesuaian lahan dan rekomendasi.

Hasil pengujian dengan PUTK kondisi tanah pH masam (5,0-5,5), N, P rendah, K sedang dan C Organik rendah dibawah 2%. Rekomendasi awal adalah peningkatan perbaikan kimia tanah dengan pemberian kapur dolomit, pemupukan N, P, dan K sesuai uji tanah dan kebutuhan tanaman.

Kondisi iklim di Batam, suhu rata-rata 24-35 0C. Musim hujan sudah dimulai Bulan November sampai dengan April 2020, namun realitanya pada Bulan Mei-Juni ini hujan masih cukup tinggi di Kepri, sehingga penyinaran matahari tidak maksimal. Rata-rata curah hujan tahunan di Kota Batam 2.600 mm/tahun (BMKG, 2020), sedangkan bulan kering pada tahun ini bergeser, dan relatif lebih pendek hanya 4-5 bulan saja (data iklim diolah BPTP Kepri, 2020).

“BPTP Kepri siap mendampingi teknologi budidaya yang diharapkan petani, sesuai dengan tugasnya akan terus siap membantu percepatan penggunaan teknologi agar petani lebih maju, mandiri dan modern.”, kata Sugeng.

Jambu air madu deli hijau yang ada dilakukan pada lahan seluas 5 ha. Budidaya dalam pot/polybag, sengaja dipilih untuk memberikan kualitas hasil yang maksimal. Pembibitan dilakukan secara vegetatif yaitu dengan cangkok.

Persiapan penanaman diawali dengan mempersiapkan media berupa polybag dengan diameter lebih kurang 10-15 cm. Polybag diisi dengan campuran tanah, pupuk kompos dan sekam dengan perbandingan 1:1:1 khususnya pada karakteristik tanah yang banyak mengandung liat seperti pada lokasi.

Tak lupa juga ditambahkan dolomit untuk menyeimbangkan pH tanahnya. Ketika bibit sudah mencapai 50-60 cm tingginya, bibit sudah dapat dipindahkan ke dalam polybag yang lebih besar dengan ukuran 50-60 cm dengan menambahkan pupuk kompos 1 kg per polybagnya.

Pada saat pemeliharaan, penyiraman dilakukan setiap hari sekali jika tak ada hujan. Sedangkan pemupukan dikocor seminggu sekali secara rutin menggunakan Pupuk Organik Cair (POC) yang berasal dari biourine sapi, kambing dan kelinci serta campuran Pupuk Organik Padat (POP). Pengendalian hama juga dilakukan penyemprotan rutin seminggu sekali atau dua minggu sekali jika hujan.

Selain pemeliharaan rutin, setelah tanaman memasuki usia 4 bulan sejak pemindahan ke dalam polybag, dilakukan pemangkasan yang bertujuan membentuk cabang dan menjaga agar pohon tidak terlalu tinggi.

Pembentukan cabang mengikuti pola 1–3–7–13, yaitu 1 batang utama, 3 cabang primer, 7 cabang sekunder, dan 13 cabang tersier. Selanjutnya ulangi pemangkasan setiap 3 bulan sekali untuk penyeimbang. Pemanenan dapat dilakukan sekitar 2,5 bulan setelah bunga berubah menjadi buah atau 105 hari sejak pembungaan.

Sementara ini hasil produksi yang diperoleh adalah 5 ton per bulan dengan total tanaman yang berproduksi 800 pokok, 1500 pokok lainnya masih dalam masa vegetatif, serta 1200 lainnya masih dalam proses pindah tanam.

Melihat bentuk, ukuran, dan rasa yang sangat diminati, menjadikan jambu air madu deli hijau sangat cocok diunggulkan sebagai produk ekspor. Di Batam, penjualan jambu jenis tersebut sangat tinggi.

Meski dipatok harga Rp.65.000,- sampai dengan Rp 70.000,- per kilogram, jambu ini sangat laris manis. Sayangnya hasil produksi 5 ton per bulan yang telah dihasilkan oleh Kebun Citra Wisata baru memenuhi sebagian untuk ekspor, karena terkendala kuantitas dan sustainabilitas untuk keperluan ekspor.

“Petani berharap dengan adanya pendampingan BPTP Kepri dalam pengembangan budidaya ini produksinya bisa meningkat pesat hingga 100ton/bulan sehingga mampu memenuhi kebutuhan ekspor,” tutur Ali pengurus Kadin Kota Batam.

Penulis | F.A. Sariri dan S. Widodo
Iklan

 

 


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Segenap Crew Media Harianmemokepri.com Mengucapkan Selamat Hut Bhayangkara Ke 74

BERITA TERBARU