Ini Gejala Penyakit Difteri Pada Anak, Orang Tua Mesti Tau

Ciri ciri penyakit Difteri (dok. Google)

HarianMemoKepri.com, Kesehatan – Agar Anda lebih mudah dalam mengenali penyakit difteri, berikut artikel ini akan menjelaskan beberapa hal yang harus diketahui oleh orang tua, keluarga, dan teman.

Apa itu penyakit difteri?

Difteri adalah sebutan untuk penyakit menular akibat infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae yang menyerang bagian selaput lendir (mucus) pada tenggorokan dan hidung.

Dalam kondisi tertentu difteri juga bisa menyerang kulit. Difteri termasuk ke dalam salah satu infeksi berbahaya yang dapat berujung pada kematian jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat.

Apa penyebab penyakit difteri?

Difteri disebabkan oleh infeksi bakteri yang bernama Corynebacterium diphtheriae. Bakteri difteri berasal dari kelompok bakteri gram positif yang sifatnya sangat mudah menyebar, sehingga risiko difteri akan mewabah pada suatu daerah menjadi lebih tinggi.

Ciri khas terjangkitnya seseorang dengan bakteri ini dapat dilihat dari terbentuknya lapisan berwarna abu-abu yang disebut pseudomembran pada tenggorokan dan amandel.

Lapisan berwarna abu-abu tersebut merupakan tumpukan sel-sel mati akibat dari racun yang dihasilkan oleh bakteri difteri.

Pada awalnya bakteri difteri akan menginfeksi selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, namun pada tingkatan yang lebih lanjut Corynebacterium diphtheriae akan memproduksi zat racun bernama exotoxin yang tersebar lewat aliran darah dan dapat merusak organ vital seperti ginjal, jantung, jaringan saraf, dan otak.

Berapa lama masa inkubasi bakteri difteri?

Masa inkubasi penyakit difteri terjadi antara 2-5 hari. Masa inkubasi adalah rentang waktu antara bakteri masuk menginfeksi tubuh hingga mulai dirasakan gejala-gejala penyakit. Jadi ketika bakteri difteri masuk ke dalam tubuh, Anda tidak akan merasakan gejala apa pun hingga 2-5 hari ke depan.

Siapa yang paling rentan terkena penyakit difteri?

Jika kita gunakan data tahun lalu sebagai sampel, yang paling banyak terkena penyakit difteri adalah anak-anak pada usia 1-9 tahun yakni sebesar 59% dari total 415 kasus. Dengan proporsi usia 1-4 tahun sebesar 23%, dan 5-9 tahun sebesar 36%. Sisanya terjadi pada anak usia 10-14 tahun sebesar 11%, dan remaja hingga dewasa (15 tahun ke atas) sebesar 28%.

Apa saja ciri-ciri penyakit difteri?

Ciri-ciri dan gejala awal seseorang terkena penyakit difteri adalah:

1. Mengalami radang tenggorokan.

2. Muncul lapisan berwarna putih hingga abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.

3. Demam menggigil.

4. Sakit saat menelan.

5. Suara menjadi serak.

6. Detak jantung meningkat

Untuk bisa mengeceknya Anda bisa membuka mulut anak kemudian minta anak untuk menjulurkan lidahnya hingga terlihat bagian dalam tenggorokan dan amandelnya. Jika terlihat ada lapisan berwarna abu-abu seperti ini maka segeralah bawa Anak ke dokter.

Untuk dapat mengonfirmasi bahwa penyakit yang di derita adalah positif difteri, maka tenaga medis akan mengambil sampel material terinfeksi dari tenggorokan pasien dan mengujinya di lab.

Apa saja gejala lanjutan penyakit difteri?

Tanda-tanda seseorang terkena penyakit difteri yang selanjutnya yakni:

1. Tubuh menjadi lemas.

2. Sesak napas.

3. Mengalami pembengkakan pada limfa atau kelenjar getah bening. Dapat dilihat dari leher yang membengkak.

4. Batuk keras.

5. Mengalami pilek yang berangsur-angsur semakin parah, bahkan disertai dengan mengeluarkan ingus yang bercampur darah.

6. Mengalami gangguan pada penglihatan.

7. Kesulitan bicara.

8. Kerusakan otot jantung.

9. Kerusakan saraf dan otak.

10.Kematian.

Bakteri difteri memiliki kemampuan untuk memproduksi racun yang dapat terbawa ke aliran darah dan tersebar ke berbagai organ di dalam tubuh. Akan terjadi dampak yang sangat fatal ketika racun ini masuk ke jantung dan sistem saraf.

Apabila racun difteri masuk ke jantung, maka ia dapat merusak otot-otot jantung sehingga menyebabkan penderitanya mengalami gagal jantung dan berujung pada kematian.

Apabila racun difteri ini merusak saraf pada sistem pernapasan, maka penderitanya akan mengalami kesulitan bernapas, sesak napas, hingga gagal napas yang akan berujung pada kematian.

Pada beberapa kasus difteri juga dapat berdampak pada kulit. Penderita difteri jenis ini akan mengalami borok pada kulit yang dapat menyebabkan kulit menjadi bolong.

Bagaimana cara penularan penyakit difteri?

Cara penularan penyakit difteri adalah melalui kontak langsung atau kontak jarak dekat dengan penderita. Yang paling umum adalah terhirup percikan cairan/ lendir yang bertebaran di udara pada saat penderita batuk atau bersin.

Selain itu difteri juga bisa ditularkan melalui kontak dengan benda-benda yang sudah terkontaminasi oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Misalnya sapu tangan atau handuk bekas pakai penderita, atau benda-benda lain yang dapat menjadi media perpindahan bakteri difteri dari satu orang ke orang lainnya.

Pada kasus yang cukup langka, difteri juga bisa ditularkan melalui kontak langsung pada borok difteri, yaitu apabila seseorang menyentuh borok penderita difteri maka ada risiko orang tersebut akan tertular.

Bagaimana cara mencegah penyakit difteri?

Cara mencegah penyakit difteri adalah dengan melakukan imunisasi DPT. Imunisasi DPT merupakan program wajib dari pemerintah Indonesia. Imunisasi ini mencakup pemberian vaksin difteri, pertusis, dan tetanus.

Bisa dikatakan cara paling efektif untuk mencegah penyakit difteri adalah dengan memastikan setiap anak pada setiap daerah mendapatkan imunisasi DPT lengkap.

Di Indonesia, pemberian vaksin DPT dilakukan 5 kali yakni saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun, dan lima tahun.

Dan untuk memberikan perlindungan tambahan dapat juga diberikan booster dengan vaksin bernama Tdap/Td pada usia 10 tahun dan 18 tahun. Vaksin ini dapat berikan ulang setiap rentang waktu 10 tahun.

Demikian artikel ini ditulis, semoga bermanfaat.

(Red/Tanyadokter.com)

more recommended stories