Hadeehh….Mertua Kena HOAX, Anak Meninggal Gegara ‘Burung, Menantu Berukuran Jumbo

oleh

Harian Memo Kepri, Nah Ini Dia – Berita hoaks menjelang Pilpres sampai juga ke urusan rumahtangga. Karni Biyas, 55, warga Probolinggo tak terima putrinya, Mulani, 23, meninggal karena isunya “burung” sang menantu, Nurman, 30, terlalu jumbo.

Tapi laporan ke polisi dicabut lagi, ketika dokter pastikan Mulani meninggal karena epilepsi.

Menjelang Pilpres apa saja memang bisa digoreng-goreng tanpa pakai tepung. Cuma Capres kampanye ngajak bini saja, sudah jadi masalah, dinyinyiri.

Ada lagi Capres dengar adzan dzuhur malah ngopi dulu, juga dibikin rame di medsos. Padahal bisa saja kan, karena musafir sang Capres salat dhuhurnya mau dijamak ta’khir, jadi sebetulntya tak perlu dibuat nyinyir.

Karni Biyas warga Maron, Kabupaten Probolinggo (Jatim), sebetulnnya sedang berbahagia. Sebab sebulan lalu saja mantu anak perempuannya Mulani, melawan Nurman, warga tetangga desa.

Dia berharap setahun kemudian sudah menimang cucu, yang selalu jadi kebanggaan setiap kakek-nenek.

Tapi apa lacur, baru dua minggu Mulani-Nurman berbulan madu, tahu-tahu di pagi hari ditemukan pengantin wanita meninggal.

Ketika diperiksa dokter dipastikan almarhumah bukan karena korban penganiayaan, melainkan epilepsi (ayan)-nya kambuh, tapi tak ada yang mengetahui.

Seperti lazimnya, jenazah Mulani dimakamkan di TPU desa. Tapi sehari kemudian beredar isyu dari kalangan pemuda desa itu bahwa Mulani mati gara-gara tit….eh burung Nurman terlalu king size, ukuran jumbo. Begitu isyu itu muncul ke permukaan, langsung digoreng-goreng untuk memojokkan Nurman. Padahal anak muda ini orang biasa, bukan politisi apa lagi Capres.

Karni Biyas lama-lama dengar kabar itu. Sehingga bertanya pada pemuda setempat yang jadi sumber berita miring tersebut. Ternyata mereka bukan meredamnya, tapi justru ngompori Karni Biyas agar lapor polisi. Rupanya lelaki ini termasuk lelaki dungu juga, sehingga karena termakan issyu tersebut langsung melaporkam Nurman ke Polsek Maron, “Maka saya minta jenazah anakku digali lagi, untuk menemukan bukti-bukti pendukung,” katanya.

Polisi lalu panggil dokter pemeriksa mayat Mulani. Tapi diyakinkan bahwa almarhumah memang punya riwayat epolepsi. Tapi rupanya Karni Biyas tak percaya juga, dan tetap yakin “burung” menantunya yang terlalu gede. Agar sang mertua tidak terus memelihara kedunguannya, polisi memanggil Nurman dan Pak Kades, termasuk Karni Biyas.

Atas nama hukum, dengan hormat Nurman diminta untuk bersedia diperiksa polisi-dokter dan mertuanya, tentang spesifikasi burung miliknya. Dengan tersipu-sipu dia terpaksa mengizinkan. Hasilnya, burung Nurman biasa-biasa saja, masih standar Asia.

Akhirnya Karni Biyas percaya, dan minta maaf pada Nurman dan polisi, karena terlalu percaya pada berita hoaks.

Penulis : GunarsoTS
Editor : Syf