Foto : The Enterpreneur (Insert : Maulisa Eka)

Oleh : Maulisa Eka

“Peran wirausahawan dalam menciptakan proses produksi inovatif dan keberanian untuk mengambil risiko dalam melakukan bisnis memiliki peran kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang bisa lebih jauh meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Schumpeter yang mengembangkan teori pertumbuhan ekonomi menyatakan bahwa pengusaha memiliki peran dalam pembangunan ekonomi melalui penciptaan inovasi kewirausahaan, pekerjaan, dan kesejahteraan.”

Dulu kita mengenal pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani mengorbankankan jiwa dan raganya untuk “angkat senjata” demi kepentingan bangsa. Maka lahirlah istilah-istilah yang disebut pahlawan proklamasi, pahlawan revolusi dan pahlawan reformasi. Dan notabene pahlawan tersebut adalah kaum muda. Namun dalam era globalisasi saat ini pahlawan tersebut adalah para pengusaha muda Bagaimana tidak, saat ini tidak ada satu pun negara maju tanpa ditopang pertumbuhan entrepreneur/pengusaha.

Bahkan banyak anyak pengamat memprediksi Indonesia akan menjadi salah satu negara maju dalam beberapa tahu mendatang. Namun untuk menjadi negara maju, Indonesia harus didukung dengan kecukupan proporsi jumlah enterprenuer atau pengusaha muda, minimal 2% dari jumlah penduduk Indonesia. Jika tidak ditopang oleh jumlah pengusaha yang cukup harapan besar negara Indonesia yang lebih maju adalah sebuah “utopia”

Ini menjadi sangat rasional, agar masalah kemiskinan dan pengangguran teratasi, setidaknya diperlukan 4 juta pengusaha baru di negara kita.

Dengan munculnya para pengusaha, ada sebuah irisan yang bersambung bahwa lapangan kerja semakin terbuka lebar. Jika dari 4 juta pengusaha masing-masing membutuhkan 10 tenaga kerja saja, berarti akan ada 40 juta orang yang bisa dikaryakan. Dengan begitu pengangguran akan berkurang. Secara matematis, ketika pengangguran berkurang, tingkat kemiskinan pun akan mengikuti, berkurang juga.

Pada saat ini negara kita baru memiliki jumlah pengusaha 1,65 % dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa, baru sekitar 400 ribu yang memilih sebagai pengusaha, atau hanya sekitar 0,18%. Lainnya lebih memilih jadi karyawan atau pegawai negeri sipil alias PNS. Simak saja kalau ada pengumuman bukaan lowongan penerimaan PNS, pasti yang mendaftar puluhan ribu orang.

Padahal slot yang tersedia hanya beberapa ratus orang saja. Demikian juga kalau ada lowongan di sebuah perusahaan, pasti banyak orang yang antre melamar. Ironisnya, ketika ada kesempatan untuk jadi entrepreneur/pengusaha atau pelatihan-pelatihan entrepreneur, peminatnya selalu sepi

BACA JUGA :  Menteri Susi Sering Tenggelamkan Kapal, Kadin Katakan Indonesia Sudah Rugi Milyaran Rupiah

Dengan melihat perbandingan jumlah wirausaha di negara maju, sangat wajar jika pertumbuhan perekonomian di Indonesia masih lambat, meskipun saat ini Indonesia adalah negara dengan tingkat pertumbuhan stabil. Oleh karena itu, pemerintah harus mengembangkan sektor kewirausahaan dan meningkatkan jumlah wirausahawan agar dapat berperan dalam mendukung ekonomi negara.

Apalagi kedepan persaingan bisnis semakin ketat dengan hadirnya Komunitas Ekonomi Kawasan ASEAN pada 2015. Maka Indonesia harus dapat memanfaatkan momentum dan menyiapkan diri untuk menghadapi berlangsungnya komunitas ekonomi kawasan ASEAN pada 2015 ini, salah satunya menumbuhkembangkan dan menciptakan para pengusaha muda.

Dengan hadirnya para pengusaha muda, akan tercipta stabilitas ekonomi nasional serta gempuran produk dari pihak asing menjadi stabil, karena lahirnya produk-produk kreatif dari para pengusaha muda nasional, Selain itu dengan hadirnya para pengusaha muda, angka pengangguran di Indonesia semakin menurun. Hal ini didasarkan pada data Kementrian Koperasi dan UKM bahwa gerakan kewirausahaan nasional telah mampu menekan angka pengangguran dari 6,1 persen menjadi kurang dari 5 persen pada 2013.

Namun harus diingat, pertumbuhan jumlah wirausahawan harus didukung oleh semua pihak, baik pemerintah, lembaga pendidikan, dan pengusaha termasuk organisasi pengusaha itu sendiri, seperti halnya organisasi Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Organisasi pengusaha muda menjadi penting sebagai kawah candradimuka dalam memberikan instrument dan experience kepada pengusaha muda sebagai modal dasar bagi para wirausahawan.

Peran organisasi HIPMI, dalam hal ini dapat memotivasi kaum muda menjadi young entrepreneurs, yang merupakan bagian dari salah satu faktor pendorong pertumbuhan kewirausahaan. Siklus yang kemudian terjadi adalah dengan meningkatnya wirausahawan dari kalangan kaum muda akan mengurangi pengangguran, serta menambah jumlah lapangan pekerjaan. Untuk itu, kaum muda Indonesia harus merubah mindsite- nya, dari semangat mencari pekerjaan menjadi pencipta pekerjaan, dari semngat pekerja menjadi semangat berwirausaha.

Jadi sangatlah pantas bila pengusaha diberikan gelar pahlawan ekonomi bangsa, karena mereka juga ikut berkontribusi membangun bangsa menjadi maju dengan mengentaskan pengangguran dan kemiskinan. Oleh Karena itu, mari membangun bangsa dengan berwirausaha, mari menjadi pahlawan dengan menjadi pengusaha, sejak muda. (*)

Sumber : Artikel diterima melalui E-Mail 
Redaksi HarianMemoKerpri.com 
Tanggal 31 Desember 2018.
Editor : Amri

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.