Deklarasi Dukungan Mulai Mengalir, Prabowo-Puan Ancang-ancang Tatap Pemilu 2024 yang Belum Bergulir

waktu baca 5 menit
Sabtu, 1 Jan 2022 12:38 0 11 Redaksi

Oleh : Nanda Abrian Prasetio
Mahasiswa Stisipol Raja Haji Tanjungpinang

Pemilihan umum yang akan dilaksanakan pada tahun 2024 mendatang dimana pemilihan presiden, DPR/DPD, Gubernur, Walikota/Bupati akan dijalankan secara serentak di seluruh Indonesia.

Namun, partai politik kini telah mulai memanaskan mesinnya dalam upaya menggaet dukungan khalayak untuk menginvestasikan segala daya, modal, dan kemampuan mereka untuk meramaikan Pemilu yang akan berlangsung 2,5 tahun lagi.

Membicarakan mengenai siapa pasangan calon masa depan Indonesia saat ini memang sangat menarik, akan tetapi waktunya masih belum tepat. Hal ini dikarenakan pemerintah yang masih fokus terhadap penanganan covid-19 dan memulihkan perekonomian nasional pasca serangan 2 gelombang pandemi yang telah berlalu.

Belum lagi berbagai bencana seperti meletusnya beberapa Gunung di Indonesia, gempa, banjir bandang dan lainya yang membuat Nusantara masih penuh dengan duka.

Jadi, membicarakan politik atau memanfaatkan kedukaan mereka hanya akan menghancurkan elektabilitas parpol itu sendiri. Masyarakat saat ini tentu jauh lebih cerdas ketimbang pada Pemilu-pemilu sebelumnya.

Mereka akan melihat tokoh dari kinerjanya, bukan lagi dari bagaimana mereka “pintar” untuk berbicara dan memperoleh dukungan, namun dibalik itu hasil programnya selalu menuai kritikan, akan cenderung merugikan.

Inilah mengapa masyarakat kini seolah-olah belajar dari kesalahan, mereka akan cenderung lebih berhati-hati dalam memilih pemimpin. Pemerintahan yang good governance merupakan keinginan semua orang, namun sangat sedikit persentase pemerintahan di Indonesia yang mengarah kesana, sisanya masih ada yang berjalan di tempat, bahkan menunjukan kemunduran daerahnya.

Ketidaksinkronan antara program pusat dan daerah menjadi pemicu tidak optimalnya penerapan kebijakan kepada masyarakat. Perbedaan pandangan politik menjadi salah satu faktor sehingga kepentingan rakyat harus dikorbankan.

Mengesampingkan permasalahan pembangunan di Indonesia, partai politik kini telah memulai langkah awal untuk menatap peluang mereka dalam bursa pemilu.

Menggaet suara rakyat mulai dilakukan, deklarasi dukungan mulai mengalir dan kini baik melalui survei, media sosial, kinerja daerah, maupun obrolan rakyat di warung kopi, mulai terdengar beberapa calon yang memiliki elektabilitas maupun kekuatan untuk mengarungi pemilu 2024.

Salah satu deklarasi yang timbul adalah dukungan Prabowo Subianto dan Puan Maharani sebagai pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Kedua nama diatas bukanlah nama baru di dunia perpolitikan, Prabowo Subianto yang merupakan mantan Jenderal telah mengikuti 3 kali sesi Pilpres, dimulai dari Pemilu 2009 yang kala itu Ia menjadi cawapres mendampingi Megawati menghadapi Susilo Bambang Yudhoyono – Boediono dan gagal. Selanjutnya kembali sebagai capres bersama Hatta Rajasa menghadapi Jokowi-Jusuf Kalla yang kala itu mantan Gubernur Jakarta tersebut berhasil menduduki RI 1.

Terakhir pada tahun 2019 lalu yang merupakan tahun politik paling panas di Indonesia karena masyarakat terbelah menjadi dua poros yang kala itu Prabowo menggaet Sandiaga untuk menjadi cawapresnya harus kalah untuk kedua kalinya terhadap Jokowi-Ma’ruf Amin dan ketiga kalinya selama mengikuti ajang Pilpres.

Namun, nama Prabowo tidak tenggelam begitu saja, Ia dirangkul Jokowi untuk bersatu dalam Kabinet dan memperkuat pertahanan NKRI dengan didapuk menjadi Menteri Pertahanan. Sebagai mantan Jenderal, tentu kemampuan ini dibutuhkan oleh Jokowi dalam rangka meracik pertahanan dalam rangka menjaga keamanan Indonesia dari asing. Selanjutnya adalah Puan Maharani.

Sebagai putri dari mantan Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarno Putri dan Cucu dari Putra Sang Fajar sekaligus Presiden Pertama RI, Bapak Soekarno, Ia tentunya memiliki nama besar yang merupakan keturunan langsung dari darah Sang Proklamator.

Sempat menjadi bagian dari Kabinet Kerja Jokowi di periode pertama sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak, kini Ia menduduki posisi strategis sebagai Ketua DPR di Parlemen. Namun, peta kekuatannya masih belum semasif Prabowo yang telah lebih dahulu berpengalaman di dunia pencapresan.

Namun kedua tokoh yang sama-sama memiliki nama besar ini tentunya menarik untuk dilihat kiprahnya di sisa 2,5 tahun ini mengingat masyarakat membutuhkan sosok pembaharuan dan memiliki visi yang sama untuk melanjutkan pembangunan yang merata seperti yang telah dilakukan oleh Jokowi.

Deklarasi keduanya mungkin masih dianggap cukup dini karena sesuatu dapat terjadi dan peta Pemilu bisa saja berubah. Akan tetapi, penyatuan dua kekuatan partai besar tentunya akan menciptakan situasi dimana partai lain akan kesulitan untung mengusung calonnya sendiri.

Pencapresan keduanya bukannya tidak memiliki lawan yang kuat. Terdapat nama Ganjar yang menguntit diikuti dengan Anies dan Sandiaga Uno. Segala kemungkinan masih bisa terjadi dan rakyat akan terus menilai kualitas dari masing-masing calon tersebut. Keberadaan media sosial akan menjadi pilihan juga faktor bagi para tokoh ini untuk menaikkan popularitas serta memperoleh dukungan.

Jadi, Prabowo-Puan disamping deklarasi yang terus mengalir dilaka Pemilu yang belum bergulir, mereka harus lebih bekerja keras lagi agar tidak terkejar oleh calon pemimpin disamping memiliki elektabilitas yang terus menanjak, juga usia yang masih cenderung muda dan ini akan menjadi salah satu faktor dalam menggaet suara milenial dan eks generasi Z yang akan menjadi pemilih tertinggi di tahun 2024 mendatang.

Dapat diketahui bahwa hasil sensus pada tahun lalu, dari 270 juta penduduk Indonesia, Gen Z dan Milenial mendominasi jumlah penduduk Indonesia atau masing-masing 27,94% (Gen Z / usia rata-rata 8 – 23 tahun) dan 25,87% (Milenial / rata-rata 24-39 tahun).

Jadi, dengan total 53,81% angkatan muda, atau hampir setengah dari populasi menyeluruh di Indonesia, maka kedua kelompok generasi itulah yang mesti digaet oleh masing-masing pasangan Paslon, khususnya Prabowo-Puan. Keseluruhan generasi muda ini tentunya memiliki pemikiran yang kritis dalam melihat maupun menilai seseorang, seperti melihat tokoh dari hasil kerjanya, bukan lagi pada namanya.

Prabowo dan Puan masih dianggap besar karena nama ketokohanya, namun kinerjanya masih belum mampu menarik perhatian para kaum muda ini. Disamping itu, pemanfaatan media sosial dari kedua tokoh ini juga masih belum bisa menjadi daya tarik karena dapat diketahui bahwa mayoritas Gen Z maupun Milenial memiliki media sosial dan mereka aktif dalam bersosmed sebagai media pencarian informasi dan aktualisasi diri.

Oleh karena itu, pemanfaatan media sosial dalam menaikan elektabilitas dan memperoleh dukungan akan sangat berpotensi wajah-wajah para tokoh politik tersebut dikenal.

Mereka harus mampu memainkan kreativitas media sosial dalam meliput mengenai kinerja dengan konsep yang kekinian dan cenderung fresh dari panggangan. Anak muda tidak akan suka tokoh yang tidak mengakomodasi kepentingan keremajaan atau ke-anak-mudaan mereka.

Pemuda-pemudi di Indonesia kini cenderung liberal akibat pengaruh globalisasi, sehingga kebebasan dalam memperoleh menjalankan aktivitas adalah suatu dambaan bagi mereka dan pengekangan hanya akan membuat eksplorasi dirinya gagal. Itulah yang perlu dijawab oleh para calon, khususnya bagi pasangan Prabowo dan Puan Maharani dalam memperkuat potensinya dalam kontestasi Pemilu dimasa mendatang.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

harian tni kepri

revisi iklan dan medsos

post 1080x1080
whatsapp image 2022 11 18 at 11.27.52

Smsi Group