Beranda Berita Kepri BPTP dan BBI Kepri Lakukan Kerjasama Merintis Perbenihan Kedelai

BPTP dan BBI Kepri Lakukan Kerjasama Merintis Perbenihan Kedelai

Harian Memo Kepri | Pertanian — Kedelai adalah salah satu komoditi pangan utama Indonesia setelah padi dan jagung. Kedelai merupakan komoditas tanaman yang cukup penting dan banyak digunakan dalam produk bahan pangan dan produk bahan industri.

Permasalahan utama komoditas kedelai yang dihadapi di Kepulauan Riau adalah tidak adanya benih bermutu yang telah tersertifikasi, dan petani lebih menginginkan panen muda karena harganya lebih menguntungkan.

Ketersediaan benih harus didatangkan dari luar Provinsi Kepri, kalaupun ada benih kedelai yang dibudidayakan masyarakat merupakan benih lokal.

Balai Benih Induk (BBI) dengan mengandeng Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kepulauan Riau merencanakan melakukan perbenihan seluas 1,0 ha, pada tahap pertama dilakukan penanaman seluas 2.000 m2, sambil menunggu proses pembukaan lahan baru nantinya akan dikembangkan seluas 1,0 ha.

Demplot yang dilakukan ini sebagai dukungan kegiatan pertanian dalam upaya mendukung lumbung pangan di wilayah perbatasan. Selain itu juga sebagai jawaban salah satu permasalahan utama yang dihadapi di pertanian Kepri yaitu ketergantungan benih dari luar.

Kepala BPTP Kepri, Dr. Ir. Sugeng Widodo, MP., menjelaskan demplot yang dilakukan BPTP Kepri mengenalkan dua varietas kedelai unggul yaitu Grobogan dan Dega-1, dengan perbandingan menggunakan teknologi inovasi pengunaan mulsa dan tanpa tanpa.

Dasar penggunaan mulsa adalah ketersediaan tenaga kerja di Kepri terbatas dan untuk menekan gulma. Kedua benih tersebut merupakan benih unggul kedelai dari badan litbang pertanian yang memiliki keunggulan masing-masing, Grobogan memiliki kemampuan beradaptasi yang baik pada beberapa kondisi lingkungan berbeda dengan umur masak polong ±76 hari, sedangkan Dega-1 memiliki ketahanan terhadap penyakit karat daun, adaptif lahan sawah.

Penanaman kedelai ini pada pada lahan yang sebelumnya sudah pernah dilakukan penanaman kedelai sehingga tidak perlu dilakukan penambahan tricoderma sp seperti pada lahan yang masih baru. Pengolahan tanah dilakukan tiga dengan dilakukan rotary/pembajakan.

Bedeng dibuat selebar 80 cm dan antar bedeng dibuat saluran irigasi selebar 20 cm. Penanaman dilakukan dengan sistem tugal dengan jarak tanam 40×15 cm menyesuaikan dengan tingkat kesuburan tanah. Berdasarkan hasil analisis fisika dan kimia dengan menggunakan PUTK, kandungan liat > 50%, hara N, P, K, tersedia rendah, pH 5,0-5,5 dan C Organik relative rendah dibawah 2%.

Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesuburan tanah relatif rendah. Oleh sebab itu maka perlu perbaikan teknologi untuk meningkatklan status kesuburan tanah dan kapasitas daya dukung lahan untuk pengembangan kedelai. Penggunaan bahan organik dan pemberian dolomit adalah mutlak untuk memperbaiki sifat fisika dan kimia tanah.

Perlakuan awal benih dengan mencampur dengan pestisida sehingga benih tidak dimakan burung atau semut setelah dilakukan penanaman. Pemberian 1-2 benih pada setiap lubang tanam.

Penggunaan pupuk yang digunakan adalah urea dengan dosis 75 kg/ha, KCL 150 kg/Ha, SP 36 75kg/Ha diberikan tiga kali secara bertahap yaitu pada hari tanam,dan pupuk susulan diberikan pada umur 30 hari setelah tanam dan umur tanaman 55 hari. Digunakan pupuk kandang kotoran ayam sebagai pupuk dasar sebanyak 2 ton/Ha dan juga pemberian dolomit 1 ton/Ha.

Penulis | Gokma Ampetua Siregar, Agusrizal, dan S. Widodo
Iklan

 

 


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Segenap Crew Media Harianmemokepri.com Mengucapkan Selamat Hut Bhayangkara Ke 74

BERITA TERBARU