Bisyr Wali Allah yang Punya Kebiasaan Jalan Tanpa Alas Kaki

Bisyr Wali Allah yang Punya Kebiasaan Jalan Tanpa Alas Kaki
Ilustrasi Wali Allah (dok, hafalquransebulan.com)

Harian Memo Kepri, Religi -- Menurut aqidah sufi, wali adalah sosok yang ditunjuk oleh Allah dengan berbagai keistimewaan yang dia miliki.

Terlepas dari apa pun amalnya, sifatnya dan karakternya. Orang bisa saja jadi wali, sekalipun dia tidak memliki karakter layaknya orang soleh.

Waliyulloh memiliki ciri khas yang kadang sulit untuk dimengerti oleh khalayak awam.

Ada seorang wali Allah bernama Bisyr yang masyur pada masanya, juga memiliki ciri khasnya sendiri.

Berikut salah satu riwayat dari Bisyr seperti dikutip dari NU Online

Wali Allah Bisyr

Bisyr adalah seorang ulama sekaligus wali Allah yang masyhur pada masanya. Murid-muridnya datang dari daerah yang berbeda-beda. Seperti layaknya seorang guru, Bisyr-lah yang memimpin segala ritual keagamaan.

Suatu ketika ia sedang mengimami shalat berjamaah. Layaknya amaliah ulama salafus shalih, selesai shalat, Bisyr tak lantas beranjak dari pasujudannya. Ia lantas menyambungnya dengan rapalan dzikir tasbih, tahmid, takdir, dan juga tahlil yang diakhiri dengan doa, sedangkan murid-muridnya mengamini belakangan.

Ketika berniat undur diri setelah ibadah, Bisyr terhenti langkahnya di ambalan masjid. Terompah yang tadi ia pakai berangkat jamaah, telah raib hilang entah ke mana. Ia terpekur sejenak, kemudian linangan air mata membasahi kedua pipinya.

BACA JUGA

Duhai, betapa keheranan para muridnya. Seorang guru alim nan bersahaja yang mereka cintai menangis tersedu sedan hanya karena kehilangan alas kaki yang notabenenya perkara duniawi. Dengan terbata, salah satu dari mereka memberanikan diri bertanya pada sang guru.

BACA JUGA :  Sebarkan Surat Edaran, Pemkab Bintan Tetapkan THM Buka Hanya Sampai Pukul 01.00 Selama Ramadhan

"Wahai Syekh, engkau adalah seorang ulama yang terkenal alim nan zuhud di seantero negeri ini. Namun, gerangan apa yang membuat engkau menangisi alas kakimu yang hilang?".

Mendengar pertanyaan muridnya, Bisyr tak lantas menjawab. Ia masih saja diam meratapi sesuatu yang sungguh berbeda dengan apa yang dilihat oleh muridnya. Sembari menghela napas ia berkata.

"Muridku, tangisanku sama sekali menyesali sandalku yang hilang. Melainkan aku menyesalkan akan diriku sendiri. Ya, tahukah engkau muridku, sesungguhnya aku sangat menyesal mengapa diriku membawa alas kaki yang menarik pandangan mata orang lain. Sehingga orang tersebut memberanikan diri maksiat kepada Allah dengan mencuri. Oh, aku begitu menyesal. Oleh sebabku, ia berani mendurhakai Allah subhanahu wata'ala."

Sontak seluruh muridnya pun tertunduk malu. Ternyata pandangan luaran semata telah mengaburkan sifat takzim, hormat kepada guru. Akhirnya setelah kejadian itu, Bisyr pun tak berani lagi memakai alas kaki. Hingga di kalangan penduduknya ia pun diberi gelar al-hafi, orang yang tidak memakai alas kaki (nyeker).

Seperti itulah akhlak dari salafus salih, ulama terdahulu nan alim dan rajin beribadah. Mereka begitu pandai memalingkan nafsu amarah kepada pandangan penuh hikmah ilahiyah. Mereka tak mudah untuk marah dan menyalahkan keadaan. Sebaliknya mereka justru mensyukuri segala sesuatu yang terjadi sebagai takdir terindah utuk diambil hikmah, sari pati pelajaran kebijaksanaan.

Sumber : nu.or.id
Editor : Tomo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.