Berkeluh Kesah, Waria Tanjungpinang Ini Curhat Sering Tak Dibayar, ‘Main’ nya di Semak-semak, Hingga Dipukuli Pelanggan Sampai Bonyok

43
Ilustrasi

HarianMemoKepri.com, Tanjungpinang – Jalan tersebut nampak sepi ketika malam, tak seperti siang hari yang cukup padat. Akan tetapi, dibalik kesunyian itu ada banyak cerita mengenai para penjaja kenikmatan.

Jika siang, jalan yang tembus ke arah Rumah Sakit Angkatan Laut, dan tembus ke arah jalan S.M Amin Kota Tanjungpinang cukup ramai dilalui pengendara. Namun ketika malam, terutama pada pukul 23.00 wib hingga menjelang subuh, lokasi tersebut menjadi tempat nongkrong beberapa orang untuk menawarkan jasa pemuas nafsu.

Di lokasi tersebut banyak para waria yang duduk secara terpisah dan berkelompok. Mereka memanfaatkan bibir jalan untuk duduk, namun ada juga yang berdiri. Mereka yang berjumlah sekitar 3 hingga 4 orang tersebut saling berbicara dengan gaya bicara yang cukup khas di telinga kita dan penuh identitas.

Dengan dandanan yang cukup menor. Mengenakan rok mini, dan beberapa aksesoris kecantikan, riasan yang tebal serta mengenakan wig warna warni. Terlihat ada yang mengenakan rambut palsu berwarna merah, kuning keemasan, coklat dan lainnya. Dan kebanyakan dari mereka bukan karena.mereka menginginkan melainkan karena keterpaksaan.

Saat ditemui oleh HarianMemoKepri.com, mereka mencerikan aktifitas mereka sekaligus mencurahkan keluh kesahnya selama menjalani profesi tersebut.

Barbara, waria berusia 25 tahun ini mengaku telah tiga tahun mangkal di lokasi tersebut untuk mencari pelanggan.

Ia mengaku menjalani pekerjaan tersebut karena faktor lingkungan dan juga ekonomi.

“Sebenarnya ini beban untuk bang, karena kurang tidur, malam melayani tamu. Tamu saya kebanyakan usianya hampir memasuki usia senja,” jelas Barbara, Minggu, (31/12/2017).

Barbara nama eksisnya ini menjelaskan jika selama ini dia memasang tarif Rp 50 ribu hingga Rp 200 ribu, tergantung tingkat kepuasan pelanggan. Ia melayani tamunya di semak-semak disekitar tempatnya mangkalnya

BACA JUGA :  Hari ini, ratusan Calon dan warga Paguyuban Seni Beladiri Pernapasan Tapak Wali Indonesia diwisuda.

Berdasarkan pengakuannya, pelangganya usianya beragam. Ada yang masih berusia belasan hingga ada yang telah renta.

Ia kemudian menceritakan pengalaman pahit selama menjalani pekerjaan haram itu. Tak jarang ia mengalami kekerasan dari pelanggannya yang merasa tak puas dengan pelayannya.

“Bahkan pernah tak dibayar, Kadang saya dipukul ketika mereka tak puas, wajah saya dikencingi, mereka tak membayar setelah saya layani, terkadang Hp saya dicuri. Biasanya mereka yang sudah mabuk seperti itu, kalau yang masih dalam kondisi normal mereka baik-baik saja,” curhatnya sambil meneteskan air mata.

Selain melayani tamu saat malam, Barbara menjelaskan jika dirinya juga bekerja di salon ketika siang.

Ia bercita-cita di kemudian hari tabungannya cukup untuk membuka salon sendiri. Barbara juga menyatakan ingin berhenti dari pekerjaannya tersebut dan menjalani kerjaan halal lainnya.

“Siapa sih yang mau hidup seperti ini, tidak enak rasanya. Saya selalu dipandang sebelah mata. Ini hanya untuk bertahan hidup, makan sehari-hari dan bisa membayar kos, setidaknya saya tidak menganggu siapa pun,” tuturnya.

Tak jauh beda dengan rekan Barbara yang lain, Nurmala. Waria berusia 30 tahun tersebut juga mengatakan jika tarifnya sekali main Rp 50 ribu.

Waria yang telah tujuh tahun mangkal tersebut mengatakan jika pelangganya banyak yang dari kalangan muda.

“Namanya juga pekerjaan, tapi eike selalu berusaha memuaskan pelanggan saya sehingga mereka terus datang dan mencari saya ketika membutuhkan,” tandasnya. (Red/Tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.