Beranda Religi Adab Berdoa, Belajar dari Cara Nabi Yunus

Adab Berdoa, Belajar dari Cara Nabi Yunus

Karena itu, setelah Nabi Yunus ‘alaihissalam terus meminta, Allah menjawab (QS. Al-Anbiya’: 88): “fastajabnâ lahu wa najjaynâhu minal ghamm” (maka Kami perkenankan/kabulkan doanya dan Kami selamatkan ia dari kedukaan). Untuk mengetahui lebih jauh, kita harus memahami terlebih dahulu runtutan kisah Nabi Yunus dalam surat Al-Anbiya’. Berikut runtutannya:

Dalam ayat yang dikutip Imam Abu Bakr al-Thurthusyi dalam penjelasannya, di depan ayat tersebut terdapat kalimat (QS. Al-Anbiya’: 87):

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya).”

Dalam Tafsîr al-Jalalain, maksud kata “mughâdliban” (dalam keadaan marah) adalah untuk kaumnya (li qaumihi). 

Kemarahan ini disebabkan oleh perlakuan buruk kaumnya kepadanya hingga ia memilih pergi meninggalkan mereka, padahal Allah belum mengizinkannya (wa lam yu’dzan lahu fî dzalik). 

Karena itu, Allah memutuskan untuk mempersempitnya dengan menahannya di dalam perut ikan paus (naqdli mâ qadlaynâhu min habsihi fi bathnil khût aw nudlayyiq ‘alaihi bi dzalik). (Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin al-Suyuthi, Tafsîr al-Jalalain al-Muyassar, Beirut: Maktabah Lubnan Nasyirun, 2003, h. 329)

Setelah berada di perut ikan paus, Nabi Yunus merasakan susahnya tinggal dalam kegelapan, yang dalamTafsîr al-Jalalain diterangkan dalam tiga bentuk, yaitu, “dhulmatul lail wa dhulmatul bahr wa dhulmat bathnil khût” (kegelapan malam, kegelapan lautan, dan kegelapan perut ikan paus).

Kemudian ia menyeru (berdoa) kepada Allah, “Bahwa tiada tuhan kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk golongan orang-orang yang zalim.” Kata “al-dhâlimîn” (orang-orang yang zalim) ditafsirkan sebagai, “fî dzahâbî min bain qaumî bilâ idznin” (karena kepergianku dari kaumku tanpa izin). (Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin al-Suyuthi, Tafsîr al-Jalalain al-Muyassar, 2003, h. 329) Dan Allah pun mengabulkan doa Nabi Yunus ‘alaihissalam dengan mengatakan: maka Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan ia dari kedukaan.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.