5 Peran Wanita Dalam Pembangunan Daerah, Marzita : Wanita Sebagai Inisiator Produksi bukan Konsumsi

128
Aktivis Wanita Tanjungpinang, Marzita (foto. ist)

HarianMemoKepri.com, Tanjungpinang – Kiprah kaum perempuan dalam pembangunan nasional dan daerah sangatlah diperlukan. Mengapa demikian? Selain argumentasi normatif, yang memperlihatkan bahwa kaum perempuan memiliki hak dan kesempatan yang sama, terdapat suatu kenyataan bahwa “beban” yang kini dihadapi oleh kaum perempuan amatlah berat.

Sebut saja kasus-kasus seperti angka kematian ibu melahirkan atau masalah akses terhadap layanan kesehatan yang baik, angka buta huruf atau keterbelakangan dalam pendidikan, masalah kemiskinan dan kelangkaan dan ketidakadilan lapangan pekerjaan bagi perempuan, sampai dengan masalah kekerasan yang kerapkali menimpa kaum perempuan, baik kekerasan dalam rumah tangga ataupun kekerasan lain di luar rumah.

Karena Itu lah, Salah satu Aktivis Wanita Kota Tanjungpinang, Marzita atau yang akrab dipanggil Kak Ita ini mengatakan bahwa kaum perempuan hendaknya mengambil peran strategis dalam proses pembangunan, sebagaimana yang dimaksudkan oleh Ir. Sukarno, Presiden RI pertama, agar kaum perempuan ikut memastikan arah gerak negara, sehingga kaum perempuan mendapatkan hak dasarnya sebagai manusia yang mulia.

Marzita saat membantu salah satu Warga Kecamatan Timur dalam memperoleh Pelayanan kesehatan (Foto. ist)

“Dengan keterlibatan kaum perempuan, maka kepentingan kaum perempuan akan lebih tersalurkan dan lebih dari itu, kebijakan-kebijakan yang muncul akan mencerminkan suatu kebijakan yang berorientasi pada kesetaraan dan keadilan gender,” ucap Marzita.

Kak Ita menjelaskan ada 5 peran strategis yang dapat dijalankan oleh kaum perempuan meliputi :

Pertama, peran untuk ambil bagian dalam proses politik, khususnya proses pengambilan keputusan politik yang dapat berimplikasi pada kehidupan publik. Dalam hal ini, jumlah kaum perempuan harus lebih banyak yang  membangun keberanian untuk memasuki ranah politik, baik menjadi penggerak partai politik, masuk ke parlemen, atau berjuang melalui posisi kepala daerah.

Kedua, peran untuk ambil bagian dalam merancang suatu model baru pembangunan, yang digerakkan oleh suatu tata kelola pemerintahan yang baik dan adil gender. Kaum perempuan dapat mendorong berkembangnya pandangan baru dan ukuran-ukuran baru, sehingga kiprah kaum perempuan tetap dilihat dalam kacamata perempuan dan bukan kacamata yang bias gender.

BACA JUGA :  Halal Bihalal, Sabar Mohon Doa Restu dan Janji Sejahterakan Masyarakat

Ketiga, peran untuk ambil bagian dalam proses sosial-ekonomi dan produksi, serta proses kemasyarakatan yang luas. Kaum perempuan dapat menjadi penggerak kebangkitan perekonomian nasional yang lebih berkarakter, yakni perekonomian yang berbasis produksi, bukan konsumsi.

Peran Wanita dalam menciptakan Dunia pendidikan bagi anak yang ramah (foto. ist)

Keempat, peran perempuan sebagai pioner, inisiator, dan change agent dalam penyelenggaraan pemerintahan maupun kemasyarakatan. Dalam hal ini dibutuhkan perempuan yang memiliki kapasitas memadai, kepemimpinan yang mumpuni, dan dan daya adaptasi yang tinggi dalam berbagai kondisi dan tempat.

Kelima,  peran yang sangat penting dalam pembangunan masayarakat yang bermoral. Akan tetapi kerap kali peran perempuan menjadi perdebatan. Banyak kalangan yang menilai perempuan seharusnya mendapatkan peran yang lebih didalam kehidupan bermasyarakat. Terutama dalam pendidikan, perempuan merupakan guru pertama bagi anak-anaknya. Dimana anak-anak ini merupakan bibit-bibit penerus bangsa indonesia.

Sebagaimana yang selalu dikatakan oleh orangtua terdahulu, “Ibu ibarat madrasah, jika kau persiapkan maka sesungguhnya anda sedang menyiapkan bangsa (besar) yang wangi keringatnya.” Namun, tidak sedikit yang memandang bahwa ranah kerja wanita hanya sebatas dalam kehidupan rumah tangga saja.

Menjadikan Suara Wanita sebagai Wadah Aspirasi bagi Kaum Ibu dalam Pembangunan Daerah (foto. Ist)

Kaum perempuan sudah saatnya memanfaatkan ruang yang telah terbuka dengan sebaik-baiknya. Beberapa kebijakan yang mulai memperlihatkan suatu kesadaran tentang kesetaraan dan keadilan gender, tentu perlu diperluas dan pada gilirannya arah dan seluruh gerak negara, berorientasi pada usaha membangun tata kehidupan yang setara dan berkeadilan.

“Kita percaya bahwa hal ini sangat mungkin diwujudkan, sepanjang kita setia pada cita-cita proklamasi kemerdekaan dan ideologi bangsa, yakni Pancasila. Dengan berjalan di atas garis ideologi dan cita-cita proklamasi, kita percaya bahwa tata hidup yang setara dan berkeadilan, akan dapat diraih dengan gemilang,” ucapnya. (Red)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.